AKURAT.CO China mengisyaratkan akan melakukan langkah-langkah stimulus lanjutan termasuk meningkatkan defisit anggaran pada tahun 2025. Hal ini disampaikan pasca pertemuan ekonomi yang menetapkan prioritas kebijakan untuk tahun mendatang.
Dilansir dari Bloomberg, Jumat (13/12/2024), Konferensi Kerja Ekonomi Pusat yang berlangsung selama dua hari di Beijing, dipimpin oleh Presiden Xi Jinping, dirinya berkomitmen untuk memangkas suku bunga dan menurunkan persyaratan cadangan (RRR) bagi bank-bank.
China bertekad untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan memastikan stabilitas lapangan kerja serta harga secara keseluruhan pada tahun depan. Selain itu, China akan memperbanyak penerbitan obligasi jangka panjang dan surat utang pemerintah daerah, yang akan digunakan untuk mendanai investasi infrastruktur dan belanja publik lainnya.
Meskipun belum ada kejelasan mengenai kapan waktu pasti pelonggaran moneter akan dilaksanakan, para ekonom memperkirakan langkah penurunan RRR akan terjadi pada akhir tahun ini.
Hal ini bertujuan untuk memberi bank lebih banyak uang yang bisa dipinjamkan dan diinvestasikan. Sementara itu, pengurangan suku bunga diperkirakan akan terjadi pada awal tahun depan.
Setelah pengumuman tersebut, saham berjangka China turun sekitar 1%. Menurut kepala ekonom China di Australia dan New Zealand Banking Group Ltd, Raymond Yeung mengatakan bahwa langkah kebijakan ini sesuai dengan ekspektasi sebelumnya.
"Sekarang, yang jadi pertanyaan adalah seberapa besar langkah-langkahnya," ujarnya.
Komitmen ini melanjutkan kebijakan yang sebelumnya diambil oleh Politbiro pada pertemuan awal bulan Desember, lanjutnya, dimana para pemangku kepentingan memutuskan untuk menambah stimulus ke dalam perekonomian China, dengan merubah kebijakan moneter China yang sebelumnya ketat menjadi lebih longgar, dengan tujuan mendukung permintaan domestik.
Meskipun ada potensi risiko penurunan ekonomi pada 2025, China kembali berada di jalur yang benar untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sekitar 5% tahun ini, setelah adanya pemulihan kecil dalam konsumsi dan aktivitas industri.
Pemulihan ini sebagian besar disebabkan oleh langkah-langkah stimulus yang dikeluarkan sejak akhir September, termasuk pemotongan suku bunga dan perluasan subsidi pemerintah untuk pembelian mobil dan peralatan rumah tangga.
Namun, prospek ke depan semakin tidak pasti. Ancaman perang dagang dengan AS, terutama setelah kemungkinan kembalinya Donald Trump sebagai Presiden AS, dapat mengganggu ekspor yang sebelumnya menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, tantangan domestik juga semakin besar. Kepercayaan konsumen dan dunia usaha masih lemah, yang turut berkontribusi pada deflasi yang terus berlangsung. Sektor properti juga masih mengalami penurunan yang berlarut-larut tanpa tanda-tanda pemulihan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









