Akurat

Masih Terdampak Kontraksi, Banyak Perusahaan Eropa Tak Naikan Harga

Demi Ermansyah | 25 Oktober 2024, 20:04 WIB
Masih Terdampak Kontraksi, Banyak Perusahaan Eropa Tak Naikan Harga

AKURAT.CO Aktivitas bisnis di zona Euro kembali mengalami perlambatan bulan ini, terjebak dalam wilayah kontraksi akibat permintaan domestik dan internasional yang stagnan. Berdasarkan survei awal Indeks Manajer Pembelian (PMI) gabungan HCOB zona Euro yang disusun oleh S&P Global, perusahaan-perusahaan yang terdampak penurunan nyaris tidak menaikkan harga.

Di mana PMI gabungan zona Euro naik tipis menjadi 49,7 pada Oktober, dari 49,6 di September, namun masih di bawah angka 50, yang menandakan kontraksi untuk bulan kedua berturut-turut. Angka ini juga lebih rendah dari prediksi jajak pendapat Reuters, yang memperkirakan kenaikan hingga 49,8.

Menurut Kepala Ekonom dari Lembaga ING, Bert Colijn menyebutkan bahwa survei ini mencerminkan kondisi ekonomi yang lemah dengan inflasi yang melambat akibat permintaan yang menurun. PMI sedikit meningkat karena penurunan kontraksi di sektor manufaktur, meskipun sektor tersebut telah berada dalam fase kontraksi sejak akhir 2022.
 
Baca Juga: Ekonomi Eropa Tak Kunjung Pulih, ECB Bakal Pangkas Suku Bunga

"Sementara itu, sektor jasa yang sebelumnya lebih tangguh turut mengalami pelemahan pesanan baru. Indeks gabungan bisnis baru nyaris tidak bergerak dari titik terendah delapan bulan di 47,7 pada September menjadi 47,8 pada Oktober. Data ekspor baru, yang mencakup perdagangan antarnegara di zona Euro, juga tetap di bawah 50," ucapnya melalui lansiran Reuters.

Misalnya di Jerman yang merupakan ekonomi terbesar di Eropa, aktivitas bisnis menyusut pada Oktober, meskipun tidak separah September. Di Perancis, ekonomi terbesar kedua di Uni Eropa, sektor jasa mengalami kontraksi terburuk dalam tujuh bulan terakhir akibat rendahnya pesanan baru.

PMI Inggris, meskipun berada di luar Uni Eropa, menunjukkan pertumbuhan bisnis paling lambat dalam 11 bulan, dan perekrutan tenaga kerja menyusut untuk pertama kalinya tahun ini. Ketidakpastian menjelang anggaran pertama pemerintah Partai Buruh turut mengurangi kepercayaan pelaku usaha.

Survei PMI ini memberikan gambaran umum mengenai aktivitas ekonomi setelah Bank Sentral Eropa (ECB) memangkas suku bunga untuk ketiga kalinya tahun ini pekan lalu. ECB telah mengakui memburuknya prospek ekonomi, dan beberapa pembuat kebijakan khawatir tentang risiko gagal mencapai target inflasi 2%, sebuah perubahan besar setelah dua tahun kampanye pengendalian harga.

Paolo Grignani dari Oxford Economics mengatakan bahwa laporan PMI ini memperkuat alasan bagi ECB untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga pada pertemuan Desember mendatang, meskipun besaran penurunan masih belum pasti.

Pasar memperkirakan penurunan suku bunga seperempat poin pada Desember. Imbal hasil obligasi pemerintah zona Euro turun sedikit menjelang rilis angka ini, sementara pertumbuhan di sektor jasa, yang dominan di blok tersebut, kembali melemah. PMI sektor jasa turun menjadi 51,2 dari 51,4, lebih rendah dari ekspektasi jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kenaikan hingga 51,5.

Penurunan di sektor manufaktur juga terus berlanjut selama lebih dari dua tahun, meski tidak sedalam bulan sebelumnya. PMI pabrik naik menjadi 45,9 dari 45,0, melampaui prediksi jajak pendapat yang memperkirakan kenaikan ke 45,3. Namun, optimisme untuk tahun depan menurun, dengan indeks output masa depan turun ke level terendah dalam 12 bulan di 52,3 dari 53,6.
 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.