Akurat

Imbas Tarif Trump, 40 Persen Perusahaan Asia Pasifik Siap Beralih ke Pasar Intra Asia

M. Rahman | 20 Oktober 2025, 18:13 WIB
Imbas Tarif Trump, 40 Persen Perusahaan Asia Pasifik Siap Beralih ke Pasar Intra Asia

AKURAT.CO Meski lebih dari seperempat bisnis di Asia Pasifik masih menganggap AS sebagai pasar utama mereka, namun lebih dari 40% berencana mengalihkan fokus ke pasar Intra Asia (22%) dan Eropa (21%) dalam 12 bulan mendatang.

Hal ini terungkap dari serangkaian webinar yang digelar FedEx di 9 pasar Asia Pasifik yang diikuti oleh lebih dari 3.800 pelanggan, mulai dari usaha kecil dan menengah (UKM) hingga perusahaan multinasional.

Lebih lanjut, para pelaku usaha di kawasan Asia Pasifik terus melakukan penyesuaian bisnis mereka terhadap perubahan regulasi kepabeanan, tarif, dan dinamika pasar yang terus berkembang, termasuk juga perubahan terbaru terkait aturan pengecualian de minimis di Amerika Serikat.

Temuan lain yang tak kalah penting yakni pengendalian biaya dan transparansi bea menjadi prioritas utama, dengan 25% responden menyatakan perlunya kejelasan atas bea dan pajak sebelum pengiriman, termasuk biaya Delivered Duty Paid (DDP).

Baca Juga: Saham Fedex Lesu, Wall Street Ikut Layu

Kemudian, ketidakpastian regulasi menjadi tantangan utama, di mana 27% bisnis menyebut kesulitan mengikuti perubahan aturan sebagai hambatan terbesar dalam perdagangan internasional.

Menurut Senior Vice President, Marketing and Customer Experience, Asia Pacific, FedEx, Salil Chari, FedEx siap memberikan panduan praktis tentang cara menjaga efisiensi operasional, memperlancar proses kepabeanan, menghindari biaya tidak terduga, dan meningkatkan otomatisasi pengiriman.

Tujuannya membantu bisnis menavigasi kompleksitas perdagangan internasional dengan lebih percaya diri dan efisien. "Sebagai mitra perdagangan yang terpercaya, kami berkomitmen untuk membantu pelanggan memastikan akses yang efisien ke pasar-pasar utama," kata Salil.

"FedEx membantu bisnis di Asia Pasifik meningkatkan transparansi biaya dan bea, memperlancar proses kepabeanan, serta membuka peluang pertumbuhan baru di kawasan dan di Eropa dengan penuh keyakinan, dengan menggabungkan keahlian regulasi yang mendalam, inovasi digital, dan kekuatan jaringan global kami," imbuhnya.

Panduan Regulasi

Seiring meningkatnya permintaan akan panduan perdagangan dan solusi digital guna mendukung diversifikasi rantai pasok dan ekspansi lintas batas, FedEx juga memperluas portofolio layanannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Sebagai salah satu entry filler terbesar di Amerika Serikat, FedEx menyediakan dukungan selama 24 jam untuk memastikan kelancaran pengiriman di lebih dari 220 negara dan wilayah.

Untuk perdagangan menuju Amerika Serikat, FedEx U.S. Tariff Hub menyediakan panduan terbaru mengenai tarif, kebijakan kepabeanan, dan dokumen yang dibutuhkan. Platform ini juga menampilkan ringkasan kebijakan, lembar informasi produk dan layanan, serta tutorial yang membantu bisnis tetap siap dan patuh terhadap ketentuan yang berlaku.

FedEx juga meluncurkan fitur pencarian kode Harmonized Tariff Schedule (HTS) berbasis kecerdasan buatan (AI) dan chatbot kepabeanan berbasis AI yang membantu pengirim memberikan deskripsi barang secara akurat serta mencocokkan kode HS dengan tepat. Inovasi ini membantu mengurangi potensi keterlambatan dan meningkatkan kepatuhan kepabeanan.

Kemudian meluncurkan Go-To Europe Hub di lima pasar Asia Pasifik, yaitu Australia, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, dan Singapura. Platform informasi ini menyediakan panduan, video, dan laman khusus di fedex.com untuk membantu usaha kecil memanfaatkan peluang di pasar Eropa melalui wawasan perdagangan lokal.

Untuk mendukung pertumbuhan arus perdagangan intra-regional, FedEx juga memperluas layanan Intra-Asia, termasuk pembukaan rute penerbangan baru dari Korea Selatan ke Vietnam dengan layanan lanjutan ke Asia Pacific Hub di Guangzhou, Tiongkok, serta penerbangan langsung dari Korea Selatan ke Taiwan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa