Kemenkeu: Belanja Untuk Perubahan Iklim Tak Miliki Patokan Ideal

AKURAT.CO Pemerintah menyatakan bahwa belanja negara untuk perubahan iklim tidak memiliki patokan angka ideal tertentu.
Menurut Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Bobby Wahyu Hernawan mengatakan, bahwa tidak ada angka pasti yang dianggap ideal untuk belanja pemerintah terkait perubahan iklim.
“Jadi tadi memang kami sebut saat ini rata-rata belanja pemerintah pusat ya, mencapai 3,5 persen, idealnya berapa? Pertama, kami sampaikan sebenarnya dari standar global, tidak ada patokan angka yang ideal,” ujar Bobby di Bogor, Rabu (29/5/2024).
Baca Juga: Sasar Target NZE 2060, DEN Sarankan Pemerintah Benahi Tata Kelola EBT
Artinya, menurut Bobby, 10 % atau lebih, lebih baik dan sebagainya, sebenarnya tidak ada patokan atau standar global.
Selanjutnya, Bobby menjelaskan bahwa meskipun beberapa negara memiliki belanja yang berada di bawah 2%, tidak ada standar global yang mengharuskan suatu angka tertentu. "Tapi jawaban lugasnya adalah tidak ada patokan sebaiknya berapa," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Bobby juga menekankan bahwa perubahan iklim adalah tanggung jawab semua pihak, bukan hanya pemerintah.
"Agenda perubahan iklim ini adalah global public goods atau merupakan barang publik yang menjadi tanggung jawab semua pihak. Artinya, tidak hanya pemerintah melalui spending ataupun kebijakan lainnya, tapi semua pihak, baik internasional, kemudian di dalam negeri," jelasnya.
Menurut Bobby, peran pemerintah tetap penting sebagai katalisator utama dalam upaya-upaya terkait perubahan iklim. Dan pemerintah terus menginisiasi berbagai hal untuk menarik keterlibatan dari pihak lain dalam pembiayaan perubahan iklim.
"Namun memang betul, pemerintah salah satunya adalah menjadi katalisator utama untuk upaya-upaya ini. Tentunya pemerintah pasti sebagai motor utama, terlibatan para pihak yang lain," tambah Bobby.
Dalam pembiayaan global public goods, Bobby menekankan pentingnya concessionality. Serta, ia menegaskan bahwa biaya untuk perubahan iklim tidak boleh setinggi proyek komersial karena ini untuk kemaslahatan umat.
"Kata kuncinya kalau kita bicara global public goods adalah pembiayaan yang sifatnya adalah concessionality-nya," ujarnya.
Bobby juga menyinggung bahwa perubahan iklim telah menjadi prioritas global dan ancaman bersama, oleh karena itu, diperlukan sinergi dari berbagai pihak.
"Jadi, perubahan iklim adalah global public goods dan merupakan tanggung jawab bersama dan pemerintah tentunya seringkali bertindak sebagai motor atau katalisator untuk keterlibatan sinergi para pihak," katanya.
Ia juga menegaskan kembali bahwa tidak ada angka yang ideal untuk belanja pemerintah dalam menangani perubahan iklim. "Jadi tadi untuk angka tidak ada sebenarnya berapa yang ideal dan sebagainya," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 10Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu









