Diguncang Faktor Eksternal, Bagaimana Ketahanan Sektor Perbankan RI?

AKURAT.CO Pemerintah saat ini mewaspadai dampak rambatan ketidakpastian global dengan memperkuat bauran kebijakan fiskal, moneter, dan menjaga stabilitas sektor keuangan.
Di mana berbagai paket kebijakan disiapkan untuk melindungi daya beli masyarakat dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Tak terkecuali Industri perbankan di Indonesia yang tetap menunjukkan ketangguhan signifikan di tengah guncangan ekonomi global dan fluktuasi politik dalam negeri.
Menurut Ekonom Permata Bank, Josua Pardede menjelaskan apabila kita melihat strategi jangka pendek perbankan saat ini di tengah gejolak tentunya akan lebih berpengaruh terhadap kinerja perbankan. Meksipun begitu sektor perbankan kita tetap kuat.
Baca Juga: Sektor Perbankan dan Ekonomi Indonesia Tahan Banting
"Ya kalau melihat jangka pendek kan memang ini tentunya akan lebih berpengaruh terhadap kinerja perbankan. Meskipun di sisi lainnya sekalipun ada tantangan namun dari sisi supportnya juga diberikan oleh pemerintah seperti Bank Indonesia dengan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM)," ucapnya ketika diwawancara Akurat.co di Fakultas Ekonomi Bisnis Universtas Indonesia (UI), Rabu (22/5/2024).
Tak hanya itu saja, lanjut Josua, dari sisi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih tetap memberikan panduan agar tetap bertahan meski banyaknya tekanan dari luar.
"Misalkan saat ini Indonesia sedang mengembangkan ekonomi hijau ya, OJK sudah mengeluarkan blueprint terkait dengan arahan guideline nya itu dalam taksonomi hijau. Jadi secara tidak langsung melalui POJK terkait dengan hal tersebut sektor perbankan akan lebih prudent dalam pengelolaan kredit serta running bisnisnya juga gitu," paparnya.
Sebagai informasi, sebelumnya Bank Indonesia (BI) memperkuat implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk meningkatkan penyaluran kredit perbankan.Di mana penguatan KLM ini dilakukan melalui pengoptimalan insentif likuiditas yang tersedia serta memperluas cakupan sektor prioritas yang berkontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Gubernur BI, Perry Warjiyo menuturkan pertumbuhan kredit di tahun 2024 diperkirakan akan terus meningkat dan berada pada kisaran 10-12%.
Untuk mencapai target pertumbuhan kredit 2024 di tengah pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) Maret 2024 sebesar 7,44% (yoy), perbankan mengoptimalkan pendanaan kredit melalui strategi pengelolaan aset dengan memperhatikan aspek safety, liquidity dan profitability.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







