Akurat

Imbas Perang Israel - Hamas, Sepekan Dana Asing Rp500 M Kabur Dari RI Ke Safe Haven

M. Rahman | 12 Oktober 2023, 16:05 WIB
Imbas Perang Israel - Hamas, Sepekan Dana Asing Rp500 M Kabur Dari RI Ke Safe Haven

AKURAT.CO Aliran modal atau dana asing keluar (capital outflow) dari pasar modal Indonesia mencapai Rp500 miliar dalam sepekan terakhir (5 -11 Oktober 2023) menyusul kian meluasnya perang Israel - Hamas (Palestina). Tercatat asing melakukan beli bersih sebesar Rp14,5 triliun namun melakukan jual bersih Rp15 triliun, berdasarkan data RTI Business.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE), Mohammad Faisal, mengatakan fenomena capital outflow ke safe haven countries seperti AS, Swiss dan Jepang di tengah konflik Israel - Hamas sangat wajar mengingat trend selama ini menunjukkan biasanya saat terjadi peningkatan risiko keamanan, konflik ataupun perang akan terjadi pengalihan investasi ke jenis atau instrumen investasi yang paling aman.
 
"Demikian juga tempatnya, jadi mereka akan mengalihkan ke negara- negara yang relatih lebih aman gitu ya. Jadi biasanya trennya ke safe haven countries seharusnya meningkat apalagi kalau konfliknya itu lebih meluas atau berlarut larut artinya berkepanjangan," kata Faisal kepada Akurat.co, Kamis (12/10/2023).
 
 
Senada, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), David Sumual mengatakan instrumen safe haven termasuk dolar AS sebetulnya sudah cenderung menguat sebelum ada konflik Israel - Hamas. 
 
Penguatan ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, The Fed yang memberikan sinyal kenaikan suku bunga acuan di akhir tahun. Kedua, Depresiasi Yuan China karena kebijakan mereka mendorong aliran modal keluar. Hal ini berimbas pada tertekannya mata uang negara berkembang termasuk juga Indonesia.
 
"Setekah konflik Timur Tengah meletup, memang yang paling perlu kita khawatir adalah harga minyak yang terus melambung dan dampaknya ke nilai tukar dan inflasi kita ke depan apalagi proyeksi pertumbuhan global juga kemungkinan besar akan direvisi," kata Sumual.
 
Menurut Sumual, investor saat ini mewaspadai choke point. Saat ini hampir 25% pasokan minyak global baik dari Kuwait, Arab Saudi, UEA melewati selat Hormus. Ada kemungkinan jalur ini diblokade jika konflik Gaza meluas. 
 
Ditekankan Sumual, sentimen negatif konflik Timur Tengah akan semakin membebani nilai tukar rupiah setelah sebelumnya ditekan sentimen negatif faktor Fed dan China. Terbukti, hampir semua negara berkembang seperti Thailand, Malaysia dan Filipina termasuk juga Indonesia melemah mata uangnya.
 
Padahal pemerintah sempat berupaya menahan depresiasi rupiah lewat kebijakan kewajiban menyimpan DHE SDA. Sejak Agustus 2023 lalu, capital outflow sudah mencapai USD3,2 miliar namun terbantu dengan kebijakan DHE yang masuk sebesar USD1,6 miliar pada periode yang sama. 
 
"Beruntungnya pemerintah termasuk BI juga sudah mengambil langkah termasuk menjaga inflasi dengan mengimpor beras ya meskipun ini hanya solusi sementara karena pasokan beras kita terus berkurang sudah 3 bulan ini tidak hujan," kata Sumual.
 
Sementara Ekonom PermataBank, Josua Pardede melihat secara umum risiko konflik antara Israel- Hamas akan memberikan kekhawatiran kenaikan harga energi seperti minyak. Ini akan meningkatkan risiko bagi Indonesia dari sisi peningkatan impor sehingga akan dapat menyusutkan surplus neraca dagang, dan membuat defisit neraca berjalan atau current account (CA) melebar.
 
Dari sisi keuangan, naiknya harga minyak dapat berdampak pada inflasi global yang persistent tinggi menjadi risiko higer-for-longer akan lebih tinggi. Dampaknya adalah risiko-off yang mentriger capital outflow dari Indonesia.
 
"Kedua hal tersebut, defisit CA yang melebar dan risiko capital outflow, akan berdampak pada pelemahan nilai tukar Rupiah. Selain itu yield juga dapat terkerek naik sehingga beban utang dapat meningkat," kata Josua.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa