Soal Bonus Demografi, Wamenkeu Juda: Kualitas SDM dan Teknologi Harus Beriringan

AKURAT.CO Indonesia tengah menghadapi momentum bonus demografi yang dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, peluang tersebut juga membawa risiko jika tidak diikuti peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan penguasaan teknologi.
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung mengatakan peningkatan produktivitas menjadi kunci agar Indonesia mampu memanfaatkan besarnya populasi usia produktif sekaligus keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap.
“Kuncinya adalah di teknologi, di human resources (sumber daya manusia), yang pada akhirnya adalah produktivitas, pada akhirnya growth (pertumbuhan). Kalau kita gak ke sana, maka kita benar-benar bisa terjebak di dalam middle income trap,” ujar Juda dalam agenda Media Gathering Kementerian Keuangan di Bogor, Jawa Barat, Kamis.
Baca Juga: Wamenkeu Juda Ungkap Dilema Fiskal di Balik Upaya Menjaga Daya Beli
Bonus demografi merupakan kondisi ketika proporsi penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan penduduk usia nonproduktif.
Kondisi tersebut secara ekonomi dapat menjadi modal bagi peningkatan produksi dan pertumbuhan apabila tersedia lapangan kerja, pendidikan, serta keterampilan yang memadai.
Menurut Juda, peningkatan kualitas SDM harus berjalan beriringan dengan penguasaan teknologi. Pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan bidang Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM), perlu mendapat perhatian untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja.
Persoalannya, besarnya jumlah penduduk usia produktif tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Tanpa peningkatan produktivitas, bonus demografi justru berisiko tidak menghasilkan perubahan struktural yang cukup untuk membawa Indonesia menuju kelompok negara berpendapatan tinggi.
Baca Juga: Indonesia Punya Satu Kesempatan Manfaatkan Bonus Demografi Menuju Negara Maju
Oleh karena itu, Juda mengingatkan pengalaman sejumlah negara di Amerika Latin yang menghadapi kesulitan untuk keluar dari kelompok negara berpendapatan menengah.
“Tidak banyak negara middle income (pendapatan menengah) yang bisa keluar dari middle income trap,” kata dia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 4Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 5Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 6Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 7Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 8Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah








