Akurat Logo

Wamenkeu Juda Ungkap Dilema Fiskal di Balik Upaya Menjaga Daya Beli

Andi Syafriadi | 1 Oktober 2026, 17:42 WIB
Wamenkeu Juda Ungkap Dilema Fiskal di Balik Upaya Menjaga Daya Beli
Wakil Menteri Keuangan I, Juda Agung bersama Ekonom Bank Permata, Josua Pardede - AKURAT.CO/ANDOY

AKURAT.CO Pemerintah menghadapi dua kepentingan yang harus dijaga secara bersamaan, yakni mempertahankan daya beli masyarakat dan menjaga kesehatan fiskal negara.

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung mengatakan keseimbangan tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam merespons perkembangan inflasi.

Usut punya usut, hal tersebut disampaikan Juda setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia sebesar 3,28% secara tahunan pada September 2026.

“Jadi memang kita mencoba untuk melakukan keseimbangan antara kita menjaga daya beli, menjaga growth dengan menjaga keseimbangan fiskal,” ujar Juda dalam agenda Media Gathering Kementerian Keuangan di Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/10/2026).

Baca Juga: Inflasi Indonesia Capai 3,28 Persen, Wamenkeu Juda: Daya Beli Masih Belum Terganggu

Inflasi September 2026 sebesar 3,28% masih berada dalam rentang sasaran 2,5% plus minus 1%. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,30%, sementara secara tahun kalender mencapai 2,17%.

Lebih lanjut, Juda memberikan contoh kebijakan harga BBM untuk menggambarkan pilihan yang dihadapi pemerintah.

Menurutnya, kenaikan harga BBM secara bersamaan dapat memberikan tekanan terhadap masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah. Dampaknya tidak hanya berasal dari harga BBM itu sendiri, tetapi juga dapat merambat ke harga pangan dan kebutuhan lainnya.

“Coba kalau BBM (Bahan Bakar Minyak) kemarin tiba-tiba dinaikkan semua, pasti kenanya adalah di masyarakat menengah ke bawah; inflasinya akan naik, harga pangan naik,” kata Juda.

Baca Juga: Luky Alfirman Jadi Wamenkeu, Begini Kata Juda Agung

Di sisi lain, pemerintah juga memiliki kepentingan untuk menjaga efisiensi belanja negara agar kondisi fiskal tetap terkendali.

Juda mengatakan pemerintah berupaya melakukan efisiensi pada sejumlah pos pengeluaran sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan tersebut.

“Tapi at the same time kita bisa menjaga fiskal karena apa? Karena kita coba melakukan efisiensi-efisiensi di pengeluaran-pengeluaran yang lain,” ujarnya.

Persoalan tersebut menjadi relevan ketika inflasi berada mendekati batas atas sasaran. Dengan inflasi 3,28%, posisi inflasi Indonesia masih berada dalam target, tetapi hanya berjarak 0,22 poin persentase dari batas atas 3,5%.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.