APBN Jadi Benteng? Ini yang Disiapkan Wamenkeu Juda Agung

AKURAT.CO Ketahanan fiskal kembali menjadi perhatian pemerintah ketika perekonomian global menghadapi tekanan dari risiko geopolitik, volatilitas pasar keuangan, gangguan rantai pasok, hingga perubahan teknologi.
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung mengatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus memiliki kemampuan untuk menyerap guncangan sekaligus menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan.
Pernyataan itu disampaikan Juda dalam Central Banking Service Festival (CB Fest) 2026 di Jakarta, Senin (28/9/2026). Menurut dia, risiko global saat ini semakin saling terhubung.
Baca Juga: BI-Kemenkeu Sinkronkan Kebijakan Likuiditas hingga Arus Modal Asing
Ketegangan geopolitik, misalnya, dapat memengaruhi pasokan energi dan kemudian merambat ke inflasi, suku bunga, arus modal, nilai tukar, biaya pembiayaan, hingga pertumbuhan ekonomi.
Karena itu, kebijakan fiskal tidak cukup hanya diarahkan untuk menjaga stabilitas ketika tekanan muncul. Pemerintah juga perlu memastikan APBN tetap memiliki ruang untuk melindungi masyarakat dan menopang aktivitas produktif.
“Strategi fiskal harus tetap adaptif, prudent, dan berorientasi pada pertumbuhan; melindungi perekonomian saat ini sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal di masa depan,” ujar Juda.
Defisit APBN Masih Terkendali
Mengutip hasil data Kementerian Keuangan menunjukkan hingga Agustus 2026, pendapatan negara telah mencapai Rp2.055,6 triliun, atau sekitar 65% dari target.
Pada periode yang sama, belanja negara mencapai sekitar Rp2.295 triliun. Dengan demikian, APBN mencatat defisit Rp240,1 triliun, setara 0,93% terhadap PDB. Kemenkeu juga mencatat keseimbangan primer masih berada di posisi positif.
Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan ketika pemerintah berbicara mengenai kemampuan APBN menghadapi guncangan.
Baca Juga: Menkeu Suahasil Siapkan 6 Sektor Andalan Pacu Pertumbuhan Ekonomi
Sebab, fungsi shock absorber membutuhkan kapasitas fiskal. Ketika terjadi tekanan ekonomi, pemerintah dapat menggunakan belanja dan pembiayaan untuk menjaga konsumsi masyarakat, mempertahankan aktivitas produksi, serta mengurangi dampak terhadap kelompok yang paling rentan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 2Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 3Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 4Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 5Ramalan Shio Minggu Ini 28 September–4 Oktober 2026: Ada yang Makin Sibuk, Ada yang Butuh Me Time
- 6Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026, Tayang Malam Ini!
- 7Ini Profil Hacker yang Bocorkan Data Skandal Pelanggaran Manchester City
- 8Dinyatakan Bersalah di Mayoritas 115 Pelanggaran, Berapa Gelar Man City yang Terancam Dicopot?
- 9Komisaris Sucofindo: Gus Alex Titip Satu Juta Dolar untuk Pansus Haji, Sosok Komsin Disebut Brimob Jujur
- 10Prabowo Perkuat BPJS Kesehatan, Siapkan Tambahan Anggaran Rp20 Triliun








