Akurat Logo

18 Persen Orang Dewasa Indonesia Pernah Punya Bitcoin, Lebih Tinggi dari AS dan Jepang

Idham Nur Indrajaya | 25 September 2026, 07:51 WIB
18 Persen Orang Dewasa Indonesia Pernah Punya Bitcoin, Lebih Tinggi dari AS dan Jepang
Adopsi Bitcoin di Indonesia mencapai 18%, lebih tinggi dari AS dan Jepang. Simak data kepemilikan dan tantangan literasinya. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Bitcoin selama ini kerap diasosiasikan dengan investor teknologi, anak muda yang mengikuti perkembangan aset digital, atau aktivitas perdagangan berisiko tinggi.

Namun, data yang dirujuk dari Cornell Bitcoin Adoption Index menunjukkan gambaran yang lebih luas. Sekitar 18% populasi dewasa Indonesia pernah atau sedang memiliki Bitcoin, lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat yang berada di 14% dan Jepang 10%.

Angka tersebut membuat adopsi Bitcoin di Indonesia menarik untuk dilihat bukan hanya dari sisi harga. Ketika hampir satu dari setiap lima orang dewasa dalam populasi yang diteliti pernah atau sedang memiliki Bitcoin, pertanyaan berikutnya adalah siapa yang memiliki aset tersebut, apa konteks yang mendorong adopsinya, dan apakah pertumbuhan kepemilikan sudah diikuti pemahaman yang memadai.

Berdasarkan riset yang dikembangkan Cornell Brooks Tech Policy Institute, tingkat kepemilikan Bitcoin yang dirujuk di Indonesia mencapai sekitar 18% dari populasi dewasa. Angka ini berada di atas Amerika Serikat sebesar 14% dan Jepang sebesar 10%.

Temuan tersebut berasal dari penelitian yang mencakup lebih dari 25.000 respons dan 250 wawancara di 25 negara. Riset tersebut tidak hanya melihat kepemilikan Bitcoin, tetapi juga kaitannya dengan kondisi ekonomi, inklusi keuangan, persepsi masyarakat, serta penggunaan aset digital.

Data perbandingan tersebut penting karena menunjukkan bahwa keberadaan Bitcoin di Indonesia tidak lagi dapat dilihat hanya sebagai aktivitas kelompok kecil pengguna teknologi. Kepemilikan aset ini telah ditemukan pada berbagai kelompok masyarakat yang masuk dalam cakupan penelitian.

Mengapa Adopsi Bitcoin di Indonesia Mencapai 18%?

Angka 18% tidak serta-merta menjelaskan satu penyebab tunggal di balik kepemilikan Bitcoin. Riset Cornell melihat adopsi dalam konteks yang lebih luas, termasuk kondisi ekonomi, inklusi keuangan, persepsi masyarakat, dan cara aset digital digunakan.

Dalam konteks negara berkembang, penelitian yang dirujuk juga menemukan bahwa Bitcoin dapat dipandang sebagai salah satu alternatif ketika masyarakat menghadapi persoalan ekonomi seperti pelemahan mata uang dan keterbatasan akses terhadap sistem keuangan tertentu.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.