Hadapi Era AI dan Kripto, BI Perkuat Riset Kebijakan Bank Sentral

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) mulai mengarahkan fokus risetnya pada isu-isu yang dinilai akan menentukan arah kebijakan bank sentral di masa depan.
Di tengah meningkatnya fragmentasi geoekonomi, percepatan digitalisasi, hingga munculnya berbagai risiko sistemik baru, BI menetapkan empat agenda riset prioritas sebagai landasan penyusunan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policymaking).
Pejabat Gubernur Sementara BI, Destry Damayanti mengatakan, penguatan kualitas riset menjadi bagian penting dalam menjaga efektivitas kebijakan bank sentral di tengah perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global yang semakin kompleks.
Baca Juga: Cara Cek Kurs Rupiah Hari Ini Secara Online, Mudah Lewat Website Bank hingga Bank Indonesia
"Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem riset yang berkualitas dan relevan bagi kebijakan guna mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policymaking) di tengah perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global," kata Destry dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Menurut Destry, agenda pertama adalah memperkuat pemahaman mengenai mekanisme transmisi kebijakan moneter di tengah meningkatnya fragmentasi geoekonomi yang memengaruhi perdagangan, investasi, hingga stabilitas ekonomi global.
Prioritas kedua difokuskan pada pendalaman analisis sektor keuangan digital. BI akan memperkuat riset mengenai implikasi perkembangan sistem pembayaran digital, kecerdasan artifisial (AI), teknologi finansial (fintech), aset kripto, hingga mata uang digital terhadap pelaksanaan kebijakan bank sentral.
Selanjutnya, BI juga akan mengembangkan metode pengukuran risiko sistemik dan pengawasan makrofinansial agar mampu mengantisipasi berbagai tantangan baru, mulai dari risiko siber, perubahan iklim, tekanan likuiditas, hingga risiko yang berasal dari lintas negara.
Agenda keempat ialah memperkuat kredibilitas kelembagaan dan komunikasi kebijakan sebagai fondasi untuk menjaga kepercayaan publik terhadap bank sentral.
Empat prioritas tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Konferensi Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-20 dan Call for Papers yang diselenggarakan BI pada 31 Juli lalu dengan mengangkat tema Central Banking at the Crossroads of Geoeconomic Fragmentation, Digital Transformation, and Systemic Risks.
Forum tersebut mempertemukan peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, serta lembaga internasional untuk membahas berbagai tantangan baru yang dihadapi bank sentral di berbagai negara.
Dalam forum tersebut, BI menilai kolaborasi antara akademisi dan pembuat kebijakan menjadi semakin penting untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih adaptif terhadap dinamika ekonomi global.
Pada isu fragmentasi geoekonomi, para akademisi menilai meningkatnya guncangan global membuat bank sentral perlu memperkuat koordinasi kebijakan, memanfaatkan analisis berbasis skenario (scenario analysis), serta memperluas kerja sama internasional guna menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat ketahanan investasi.
Sementara pada aspek transformasi digital, diskusi banyak menyoroti pesatnya perkembangan AI dan inovasi keuangan digital yang mulai mengubah sistem pembayaran, bentuk uang, hingga struktur pasar keuangan.
Baca Juga: Bank Indonesia Naikkan BI-Rate ke 5,50 Persen
Para pembicara juga membahas perkembangan berbagai model uang digital, mulai dari stablecoins, tokenized deposits, hingga wholesale central bank digital currencies (CBDC).
Seluruh inovasi tersebut dinilai membutuhkan ekosistem keuangan digital yang lebih efisien, saling terhubung (interoperable), dan tangguh (resilient) agar mampu mendukung stabilitas sistem keuangan di masa depan.
BI mencatat antusiasme komunitas akademik terhadap forum tersebut cukup tinggi. Tahun ini, Call for Papers BMEB berhasil menghimpun 354 naskah penelitian dari 34 negara.
Melalui forum tersebut, BI menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi antara akademisi dan pembuat kebijakan agar hasil riset dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih responsif terhadap perkembangan ekonomi dan keuangan global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat
- 10Panggil Bahlil ke Istana, Prabowo Terima Laporan Penguatan Tata Kelola Migas dan Peningkatan Layanan Energi










