Dari Cost Overrun ke Risk Sharing, Pelajaran Mahal dari Proyek Whoosh

AKURAT.CO Rampungnya restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) bukan hanya soal penyelesaian finansial, tetapi juga membuka refleksi besar terhadap tata kelola proyek infrastruktur di Indonesia.
Proyek ini menjadi contoh nyata bagaimana kelemahan pengawasan dapat berujung pada pembengkakan biaya dalam skala besar.
Hal tersebut diakui secara langsung oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa bahwa akar persoalan Whoosh bukan pada desain proyek, melainkan pada lemahnya kontrol selama pelaksanaan.
“Ketika ada masalah, tidak ada yang menangani. Akhirnya terjadi cost overrun berpuluh triliun rupiah,” ucapnya.
Baca Juga: Pemerintah Rampungkan Restrukturisasi Whoosh, Ini Dampaknya
Data menunjukkan bahwa proyek ini mengalami lonjakan biaya dari sekitar USD6 miliar menjadi lebih dari USD7 miliar. Selisih tersebut menjadi beban tambahan yang harus diselesaikan melalui restrukturisasi pembiayaan.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Dalam berbagai proyek infrastruktur global, cost overrun sering terjadi akibat kombinasi faktor seperti perencanaan yang kurang matang, perubahan desain, serta lemahnya koordinasi antar lembaga.
Di Indonesia, persoalan koordinasi antarinstansi juga menjadi salah satu faktor yang disebut pemerintah.
Namun, pelajaran terbesar dari proyek Whoosh adalah pentingnya sistem pengawasan yang kuat sejak tahap awal.
Dalam konteks tersebut, restrukturisasi utang menjadi solusi jangka menengah. Tetapi untuk jangka panjang, pemerintah mulai mendorong perubahan pendekatan melalui skema berbagi risiko.
Model risk sharing (Pembagian porsi antara konsorsium Indonesia dan konsorsium China) dinilai lebih sehat karena tidak membebankan seluruh risiko pada satu pihak.
Baca Juga: Whoosh Angkut 311 Ribu Penumpang saat Lebaran 2026, Naik 7 Persen
Selain itu, pendekatan ini juga mendorong disiplin dalam pengelolaan proyek, karena setiap pihak memiliki kepentingan langsung terhadap kinerja proyek.
Di sisi lain, dari perspektif utilisasi, Whoosh mulai menunjukkan perkembangan positif.
Dengan lebih dari 15 juta penumpang sejak awal operasi, proyek ini memiliki potensi ekonomi, terutama dalam meningkatkan konektivitas Jakarta - Bandung yang sebelumnya memakan waktu 3 jam lebih menjadi sekitar 40 menit.
Meski demikian, tantangan utama tetap pada keberlanjutan finansial.
Pendapatan operasional harus mampu mengejar beban investasi yang besar, sesuatu yang tidak mudah untuk proyek transportasi berbasis rel berkecepatan tinggi.
Karena itu, evaluasi terhadap proyek Whoosh menjadi penting sebagai pembelajaran bagi proyek strategis nasional lainnya. Sebab tanpa adanya perbaikan tata kelola, risiko serupa pun berpotensi akan terulang kembali.
Sebaliknya, jika pelajaran ini direspons dengan reformasi sistem pengawasan dan pembiayaan, Indonesia dapat membangun fondasi yang lebih kuat untuk proyek infrastruktur di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 2Seharusnya Denny Indrayana Paham Penjelasan Jokowi Soal Ijazah Gibran, Kecuali Ada Dorongan Politik
- 3Kalender Jawa 25 September 2026: Benarkah Jumat Kliwon Hari Baik untuk Menikah?
- 4Live Streaming Timnas Indonesia vs Singapura Malam Ini, Cek Jam Tayang dan Linknya
- 5Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 6Indonesia vs Singapura Hari Ini Jam Berapa? Cek Jadwal FIFA ASEAN Cup 2026!
- 7Prediksi Skor Indonesia vs Singapura Hari Ini 25 September 2026, Cek Susunan Pemain!
- 8Ini Profil Hacker yang Bocorkan Data Skandal Pelanggaran Manchester City
- 9Prabowo Minta Mafia dan Kartel Haji Diberantas, Dorong Audit Forensik Keuangan
- 10KPK Dalami Setoran Berjenjang dari Kantor Pertanahan hingga Pejabat Kementerian ATR/BPN









