Bitcoin Turun ke USD70.000 Usai Sinyal Hawkish The Fed

AKURAT.CO Harga Bitcoin terkoreksi ke kisaran USD70.000 setelah hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) mengubah ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Penurunan ini terjadi usai bank sentral AS mempertahankan suku bunga dan mengindikasikan kebijakan yang masih ketat (hawkish).
Vice President Indodax, Antony Kusuma mengatakan, pasar kripto saat ini sangat sensitif terhadap sinyal kebijakan global, terutama dari bank sentral AS.
Baca Juga: Bitcoin Rebound ke USD70.700 Meski Sinyal Turun Masih Kuat
“Pergerakan pasar kripto saat ini dipengaruhi oleh hasil pertemuan FOMC yang membentuk ekspektasi baru investor terhadap kebijakan moneter,” ujar Antony dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (22/3/2026).
Dirinya menjelaskan, Bitcoin sebelumnya sempat menguat mendekati USD76.000 pada Selasa (17/03/2026), didorong arus masuk dana institusional ke produk spot Bitcoin ETF sebesar 199,37 juta dolar AS dalam satu hari. Secara kumulatif, aliran dana selama tujuh hari mencapai USD1,16.
Namun, setelah hasil FOMC diumumkan, harga mengalami koreksi sekitar 7–8% dan kembali ke level USD70.000.
“Hal itu menunjukkan minat investor besar yang masih terjaga meski pasar mengalami volatilitas. Namun, setelah pertemuan FOMC, para investor melakukan penyesuaian yang mempengaruhi pergerakan harga,” kata Antony.
Dari sisi kebijakan, bank sentral AS Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50–3,75%. Selain itu, proyeksi inflasi untuk 2026 direvisi naik menjadi sekitar 2,7%.
Ketua The Fed, Jerome Powell menegaskan, bahwa penurunan suku bunga ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, di tengah ketidakpastian global seperti konflik geopolitik dan kenaikan harga energi.
Baca Juga: Bitcoin Anjlok 4,5 persen Usai Sinyal The Fed Soal Inflasi
“Pasar menangkap sinyal bahwa inflasi belum turun secepat harapan, sehingga likuiditas ke aset berisiko seperti kripto menjadi lebih terbatas,” ujar Antony.
Dalam beberapa bulan terakhir, pasar kripto bergerak fluktuatif seiring tarik-menarik antara sentimen positif dari masuknya dana institusional dan tekanan dari kebijakan moneter global.
Sejak awal 2024 hingga 2025, peluncuran spot Bitcoin ETF di AS menjadi katalis utama kenaikan harga, dengan aliran dana institusional mencapai miliaran dolar. Namun, sejarah menunjukkan bahwa kebijakan moneter ketat dari The Fed kerap menekan aset berisiko, termasuk kripto.
Pada siklus sebelumnya, kenaikan suku bunga agresif sepanjang 2022–2023 juga memicu penurunan signifikan di pasar kripto global akibat berkurangnya likuiditas.
Koreksi Bitcoin ke level USD70.000 mempertegas bahwa pasar kripto saat ini masih sangat dipengaruhi faktor makroekonomi. Level USD70.000–72.000 kini menjadi area support krusial yang dipantau pelaku pasar.
“Selama level ini mampu bertahan, pergerakan harga berpotensi tetap stabil dalam jangka pendek, didukung arus masuk dana institusional. Namun jika ditembus, penyesuaian harga bisa berlanjut ke level lebih rendah,” jelas Antony.
Tekanan ini juga berpotensi memengaruhi minat investor ritel, khususnya di pasar domestik, yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan signifikan. Data dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) sebelumnya mencatat jumlah investor kripto Indonesia telah melampaui 18 juta pengguna hingga 2025.
Di sisi lain, kondisi ini mendorong pelaku industri untuk memperkuat edukasi dan manajemen risiko. Antony menekankan pentingnya pendekatan investasi jangka panjang serta strategi seperti Dollar Cost Averaging (DCA) dalam menghadapi volatilitas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat









