Akurat

Bos BEI Optimistis IHSG Tembus 9.000 di 2026

Hefriday | 6 November 2025, 12:56 WIB
Bos BEI Optimistis IHSG Tembus 9.000 di 2026

AKURAT.CO Bursa Efek Indonesia (BEI) menatap masa depan pasar modal nasional dengan penuh optimisme. Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menyampaikan keyakinannya bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menembus level 9.000 pada tahun 2026 mendatang. 

Keyakinan tersebut menjadi bagian dari visi besar BEI untuk membawa pasar modal Indonesia masuk ke jajaran 10 besar bursa dunia pada tahun 2030.

Optimisme itu bukan tanpa dasar. Hingga kuartal IV-2025, IHSG tercatat tumbuh 16,7% secara year-to-date, meski pasar modal Indonesia sempat mengalami tekanan akibat arus keluar modal asing (capital outflow) senilai Rp41 triliun. 
 
Namun, dalam sebulan terakhir, investor asing mulai kembali dengan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp12,9 triliun. Tren ini menunjukkan mulai pulihnya kepercayaan investor global terhadap stabilitas ekonomi dan prospek pasar modal Indonesia.

“Secara keseluruhan, pasar kita masih solid. Jika melihat tren transaksi dan partisipasi investor, arah IHSG menuju 9.000 bukanlah sesuatu yang berlebihan,” ujar Iman di Jakarta, Kamis (6/11/2025).
 
Baca Juga: IHSG Menguat, Pasar Saham RI Diuntungkan Sinyal Dovish The Fed

Iman mengungkapkan, jumlah investor pasar modal nasional terus meningkat signifikan pasca-pandemi. Hingga saat ini, total investor telah mencapai 19 juta orang, dengan rata-rata penambahan lebih dari dua juta investor baru setiap tahun. 
 
Tingkat aktivitas harian juga mencatatkan rekor tertinggi, yakni 232 ribu investor aktif per hari, menunjukkan minat masyarakat terhadap investasi saham semakin kuat.

Meski demikian, Iman menilai bahwa pekerjaan rumah besar BEI ke depan adalah memperkuat peran investor institusi domestik. 
 
“Backbone pasar modal Indonesia seharusnya adalah investor institusi, seperti dana pensiun dan asuransi. Kami berharap ada tambahan dana sekitar Rp23 triliun dari investor institusi pada awal tahun depan,” jelasnya.

Selain memperkuat sisi permintaan (demand), BEI juga fokus menjaga pasokan saham (supply) melalui peningkatan jumlah perusahaan tercatat. Sepanjang 2025, BEI menargetkan 45 emisi baru atau penawaran umum perdana (IPO). 
 
Hingga awal November, sebanyak 23 perusahaan telah resmi melantai di bursa, sementara 13 perusahaan lainnya dalam pipeline pencatatan. Namun, Iman menegaskan bahwa fokus BEI bukan hanya pada kuantitas emiten, tetapi juga kualitasnya. 
 
“Kami menargetkan setidaknya lima perusahaan besar dengan nilai kapitalisasi pasar minimal Rp3 triliun dan proceeds minimal Rp700 miliar untuk menjadi lighthouse IPO. Target ini sudah tercapai, dan hingga akhir tahun kami perkirakan bisa mencapai tujuh hingga delapan perusahaan,” ungkapnya.

Menariknya, struktur emiten besar di bursa kini mulai bergeser. Jika sebelumnya sektor perbankan mendominasi kapitalisasi pasar, kini perusahaan konglomerasi lintas sektor seperti energi, telekomunikasi, dan teknologi mulai mengambil peran penting.
 
Pergeseran ini, menurut Iman, menandakan transformasi ekonomi Indonesia menuju diversifikasi sektor yang lebih sehat dan kompetitif.

Sebagai bagian dari roadmap menuju posisi Top 10 Global Exchange pada tahun 2030, BEI menyiapkan enam fokus utama. Di antaranya adalah memperluas akses investor domestik dan internasional, memperbanyak produk pasar modal, memperkuat konektivitas global, serta meningkatkan infrastruktur digital dan tata kelola bursa.

Salah satu langkah strategis yang telah dilakukan adalah kerja sama antara BEI dan Singapore Stock Exchange (SGX) dalam peluncuran Depository Receipt (DR) untuk saham-saham Indonesia. Produk ini memungkinkan saham perusahaan Indonesia diperdagangkan di pasar internasional tanpa kehilangan basis domestiknya. 
 
“Kolaborasi ini menjadi tonggak penting untuk memperluas visibilitas saham Indonesia dan memperdalam integrasi pasar modal regional,” kata Iman.

Selain memperluas akses, BEI juga memperkaya produk derivatif untuk menarik lebih banyak partisipasi investor. Beberapa produk baru seperti Structured Warrants dan Single Stock Futures mulai dikembangkan berdasarkan masukan langsung dari pelaku pasar.
 
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas sekaligus memperluas pilihan instrumen investasi di pasar modal Indonesia.

Dari sisi performa, hingga September 2025, nilai transaksi harian di BEI telah mencapai Rp16,6 triliun, melampaui target semula Rp14,5 triliun. Sementara jumlah efek yang diterbitkan mencapai 555 instrumen, jauh di atas target 430 efek tahun ini.
 
Angka tersebut menjadi indikator kuat bahwa pasar modal nasional masih berada di jalur pertumbuhan yang solid, bahkan di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.

“Jika inflasi dan suku bunga global menurun, saya yakin pasar kita akan semakin menguat. Investor domestik semakin matang, dan perusahaan-perusahaan besar semakin percaya diri untuk melantai di bursa,” tambah Iman.

Dengan visi jangka panjang dan langkah strategis yang konsisten, Bursa Efek Indonesia kini bukan hanya berambisi menjadi bursa terbesar di Asia Tenggara, tetapi juga berperan sebagai pemain global. 
 
Transformasi yang tengah dilakukan, mulai dari penguatan ekosistem investor, peningkatan kualitas emiten, hingga digitalisasi pasar yang menjadi fondasi utama menuju target besar tahun 2030.

“Pasar modal Indonesia sedang memasuki babak baru. Kami optimistis 2026 akan menjadi momentum penting menuju bursa yang lebih inklusif, efisien, dan berdaya saing global,” tukas Iman Rachman.
 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa