KSEI Targetkan 1.000 Emiten, Dorong Pasar Modal Lebih Modern dan Inklusif

AKURAT.CO Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Samsul Hidayat menegaskan bahwa keberadaan perusahaan tercatat atau emiten di pasar modal memegang peran strategis dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Sampai pertengahan 2025, sebanyak 965 emiten telah terdaftar di pasar modal Indonesia, dan angka ini ditargetkan tembus 1.000 emiten hingga akhir tahun.
“KSEI dengan konsisten menjalankan komitmennya dalam menghadirkan inovasi yang berkelanjutan untuk menciptakan ekosistem pasar modal yang lebih efisien, transparan, dan inklusif,” ujar Samsul dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (11/7/2025).
Baca Juga: Bank Mandiri Kembali Ditunjuk Sebagai Bank Pembayaran KSEI dan Bank Administrator RDN
Komitmen tersebut tercermin dari layanan KSEI terhadap emiten. Pada semester I-2025, KSEI mencatat telah memfasilitasi 4.570 kegiatan aksi korporasi, naik 8,07% dibanding rata-rata semester dua tahun terakhir. Nilai distribusi aksi korporasi yang dilakukan mencapai Rp273 triliun, meningkat 10% dibandingkan akhir 2024.
Layanan elektronik seperti eASY.KSEI juga semakin diminati. Sebanyak 961 emiten telah memanfaatkannya, naik 3,1% year to date, sementara investor yang menggunakan platform tersebut meningkat signifikan sebesar 18% menjadi 56 ribu orang.
Dalam menjalankan transaksi pasar modal, KSEI didukung oleh sistem Central Depository and Book-Entry Settlement System (C-BEST) yang mampu memproses hingga 150 ribu instruksi per menit. Pada semester I-2025, sistem ini telah mengeksekusi 246,9 juta instruksi, atau rata-rata 2,3 juta per hari. Total nilai efek yang disimpan mencapai Rp8.308 triliun dari 3.297 efek tercatat.
Selain itu, sistem S-INVEST KSEI yang memfasilitasi pengelolaan investasi reksa dana juga menunjukkan kinerja tinggi dengan rata-rata 114 ribu transaksi harian. Terdapat 2.250 produk investasi yang tercatat di sistem ini, dengan nilai dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) mencapai Rp811 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menegaskan pentingnya sinergi antara regulator, pelaku industri, dan Self Regulatory Organization (SRO) dalam menjaga resiliensi pasar modal.
Baca Juga: Sah Menjadi Bank Kustodian, Bank BTN Jalin Kerja Sama Dengan KSEI
“Dibutuhkan kolaborasi yang kuat agar kebijakan yang dikeluarkan responsif dan strategis,” ujar Inarno.
OJK juga meluncurkan sejumlah kebijakan strategis, di antaranya peningkatan free float untuk calon emiten baru guna meningkatkan likuiditas pasar dan partisipasi publik. Tak hanya itu, OJK juga merevisi POJK No. 30 Tahun 2015 mengenai Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum (LRPD) demi peningkatan tata kelola emiten dan perlindungan investor.
Sektor pasar perdana juga menjadi perhatian OJK. Penyesuaian aturan E-IPO bertujuan memperluas akses bagi investor ritel, sekaligus memperbaiki kualitas penawaran saham.
Sebagai pelengkap, OJK menerbitkan Surat Edaran No. 10 Tahun 2025 yang menyederhanakan pelaporan kepemilikan saham perusahaan terbuka melalui sistem digital. Ini dilakukan agar keterbukaan informasi semakin optimal.
“Dengan kebijakan-kebijakan ini, kami ingin menciptakan pasar modal Indonesia yang lebih modern, transparan, inklusif, dan mampu bersaing secara global,” tutup Inarno.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










