Akurat

IHSG Diteropong Terkurung di Kisaran 6.500 dalam Jangka Pendek

Ikhwan Fajar Ramadhan | 17 April 2025, 15:18 WIB
IHSG Diteropong Terkurung di Kisaran 6.500 dalam Jangka Pendek

AKURAT.CO, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diteropong dalam jangka pendek masih akan tertahan di kisaran 6.500. Penyebabnya adalah tingginya ketidakpastian global akibat perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Belum lagi dengan masih tingginya aliran modal keluar alias capital outflow dari pasar saham Indonesia.

“Mungkin (tertahan) sekitar 6.000-6.500, mungkin bisa sampai 6.600. Agak-agak susah sekarang soalnya fluktuasinya sangat tinggi. Ya mudah-mudahan dengan adanya intervensi tadi (IHSG) enggak di bawah 6.500,” ujar Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto dalam media day ‘Safe, Simple, Swift: Investing with Confidence Amid Market Shocks’ yang diselenggarakan Mirae Asset Sekuritas di Jakarta, Kamis (17/4/2025).

Salah satu tekanan yang dirasakan pasar, dijelaskan Rully berasal dari menurunnya daya beli masyarakat dan kepercayaan konsumen.

Kendati telah melewati periode bulan Ramadhan dan Lebaran, kondisi itu tercermin dari terus menurunnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).

IKK pada Maret 2025, berdasarkan survei Bank Indonesia (BI), tercatat sebesar 121,1. Posisi ini turun dari 126,4 pada Februari.

Sejak November 2024, itu merupakan penurunan tiga bulan beruntun dan menjadi level terendah.

Secara historis, periode Ramadhan dan Lebaran, menurut dia, menjadi momentum bagi emiten sektor konsumsi dan ritel untuk mendongkrak kinerja.

Namun, Rully menyayangkan, pola tersebut tidak terjadi tahun ini. Polanya justru mengindikasikan lemahnya daya beli masyarakat, terutama kelas menengah.

Emiten yang bergerak di sektor ritel ditegaskan dia sangat terdampak oleh pelemahan konsumsi seperti ini.

“Ini siklus yang seharusnya di kuartal I itu lebih bagus, tapi ini tidak terjadi. Saya khawatir mungkin kalau di kuartal I yang ada Lebarannya saja sudah jelek, bagaimana kuartal-kuartal berikutnya. Jadi ini kondisinya kurang bagus terutama untuk emiten-emiten di sektor konsumen, sektor ritel,” jelasnya.

Di sisi lain, sektor komoditas yang biasanya menjadi penopang pasar juga mengalami tekanan.

Harga batu bara, sawit dan nikel menunjukkan tren penurunan.

Sementara, saat ini hanya emas yang menunjukkan penguatan signifikan, baik sebagai komoditas maupun sebagai aset investasi.

“Jadi memang kita lihat dalam sepanjang tahun 2025 ini masih ada peluang yang mungkin dengan tren masih tinggi emas masih tetap tinggi. Bahkan kalau kita lihat dari forecast, itu (harga emas) bisa antara 3.500 (dolar AS per troy ounce) sampai 4.000,” terang Rully.

Ia kemudian menyoroti bahwa salah satu emiten yang mencatatkan tren kenaikan saat ini adalah PT Aneka Tambang Tbk (Antam), yang bergerak di bidang pertambangan emas.

Lebih lanjut, terkait rencana intervensi dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) untuk menjadi penyedia likuiditas (liquidity provider) di pasar modal, Rully memandang langkah itu dapat berpotensi menahan pelemahan IHSG lebih lanjut.

“Saya juga sebenarnya kurang setuju dengan dividen BUMN (digunakan) untuk menjaga liquidity yang seharusnya lebih digunakan untuk lebih mendorong ekonomi. Karena kan janjinya dividennya (BUMN) digunakan untuk membiayai investasi,” tuturnya.

Sebenarnya langkah tersebut diyakini dia dapat membantu stabilisasi jangka pendek, namun Rully juga mengingatkan agar penggunaan dana dividen BUMN sebaiknya tidak digunakan terlalu besar untuk intervensi pasar.

Rully pun mengimbau pemerintah sebaiknya membiarkan pasar bergerak secara alami. Intervensi hanya perlu dilakukan dalam konteks menjaga kepercayaan dan stabilitas, bukan sebagai instrumen utama menggerakkan pasar modal.

“Karena ini istilahnya stabilisasi market lah untuk menjaga kepercayaan. Dalam jangka pendek oke, tapi mungkin enggak boleh terus-terusan,” imbuhnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.