Bos UBS Sebut Perang Dagang AS-China Jadi Tantangan Besar Pasar Keuangan
Demi Ermansyah | 10 Desember 2024, 13:05 WIB

AKURAT.CO Pemerintah baru Amerika Serikat (AS) berencana menaikkan tarif perdagangan untuk mitra dagangnya, ditambah dengan konflik geopolitik global, diprediksi menjadi tantangan besar bagi pasar keuangan di tahun 2025. Hal ini disampaikan CEO UBS Group AG, Sergio Ermotti.
“Percepatan isu geopolitik yang diiringi peningkatan proteksionisme dan kebijakan tarif ekonomi jelas sesuatu yang perlu diantisipasi,” ujar Ermotti dalam wawancaranya dengan Bloomberg Television saat menghadiri Abu Dhabi Finance Week.
Sebab sampai saat ini, lanjutnya, ketidakpastian masih tinggi sehingga ada kemungkinan akan melihat gejolak pasar.
Sebagai pemimpin salah satu pengelola kekayaan terbesar dunia, Ermotti mengimbau klien untuk memperkuat diversifikasi portofolio mereka. Tak hanya itu saja, dirinya jjuga mencatat bahwa saat ini minat terhadap risiko di pasar masih rendah.
Sebagai pemimpin salah satu pengelola kekayaan terbesar dunia, Ermotti mengimbau klien untuk memperkuat diversifikasi portofolio mereka. Tak hanya itu saja, dirinya jjuga mencatat bahwa saat ini minat terhadap risiko di pasar masih rendah.
“Kondisi ekonomi dan konsumen masih cukup menantang, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik global,” tambahnya.
Baca Juga: Perang Dagang Kembali Memanas, Siapkah China Hadapi AS?
Ermotti juga menyebutkan bahwa hingga kini pasar keuangan masih mampu bertahan meski diterpa berbagai isu geopolitik.
Ermotti juga menyebutkan bahwa hingga kini pasar keuangan masih mampu bertahan meski diterpa berbagai isu geopolitik.
“Saya lega sekaligus terkejut melihat peristiwa global belum memicu efek domino yang lebih luas di pasar,” sebab inflasi saat ini terlihat cukup terkendali, dan ada peluang deregulasi di AS yang bisa mendorong aktivitas merger dan akuisisi, yang pada akhirnya menguntungkan pasar dan perekonomian," paparnya kembali.
Selain itu, dirinya turut menyinggung laporan parlemen Swiss terkait penyebab kejatuhan Credit Suisse, yang diambil alih UBS dalam situasi darurat pada Maret tahun lalu. Akibat akuisisi tersebut, UBS kini menghadapi persyaratan modal yang lebih ketat karena skala bisnisnya yang semakin besar.
“Kami berharap laporan tersebut memberikan transparansi yang jelas tentang alasan kejatuhan Credit Suisse, Hal ini penting untuk dipahami sebelum ada perubahan regulasi yang mungkin berisiko mengurangi daya saing sektor keuangan," tegasnya.
Selain itu, dirinya turut menyinggung laporan parlemen Swiss terkait penyebab kejatuhan Credit Suisse, yang diambil alih UBS dalam situasi darurat pada Maret tahun lalu. Akibat akuisisi tersebut, UBS kini menghadapi persyaratan modal yang lebih ketat karena skala bisnisnya yang semakin besar.
“Kami berharap laporan tersebut memberikan transparansi yang jelas tentang alasan kejatuhan Credit Suisse, Hal ini penting untuk dipahami sebelum ada perubahan regulasi yang mungkin berisiko mengurangi daya saing sektor keuangan," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 10Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu









