Akurat

Cerita Bank Sampoerna Bantu Nasabah UMKM Naik Kelas

M. Rahman | 28 November 2023, 22:46 WIB
Cerita Bank Sampoerna Bantu Nasabah UMKM Naik Kelas

AKURAT.CO Bank Sampoerna baru saja mencetak pertumbuhan kredit sekitar 23,1% menjadi Rp11,3 triliun di kuartal III-2023, dimana sekitar Rp6,8 triliun atau 60% nya merupakan debitur UMKM.

Jumlah debitur UMKM perusahaan pun terus tumbuh, mencapai puluhan ribu. Menariknya, tak hanya berhasil menyalurkan kredit ke mereka, namun Bank Sampoerna juga berhasil membuat banyak di antara mereka naik kelas.

Lending Center Division Head Bank Sampoerna, Hendra Setiawan mengatakan kebanyakan nasabah atau debitur UMKM perusahaan tidak memiliki pencatatan atau laporan keuangan. Namun setelah menjadi nasabah, mereka diedukasi agar memiliki pencatatan keuangan yang baik sehingga bisa mengakses produk kredit dengan rasio pinjaman terhadap jaminan atau loan to value (LTV) yang lebih tinggi dan bunga yang lebih rendah.

Baca Juga: Bank Sampoerna Optimistis Kredit Tetap Moncer Di Tahun Politik

"Banyak case itu mereka waktu masuk karena laporan atau pencatatan keuangan enggak ada, begitu sudah masuk kita kasih edukasi sehingga kebanyakan sekarang pencatatannya lebih baik. Setelah punya pencatatan keuangan yang lebih baik kita masukan ke produk B dengan LTV yang lebih tinggi dan bunga lebih turun. Tapi di satu titik ketika mereka sudah mature sekali sebagai pengusaha ya mungkin waktunya mereka untuk pindah ke bank yang lebih gede dan itu enggak salah karena sesuai visi kita menaikan UMKM," kata Hendra di sela Media Luncheon, Selasa (28/11/2023).

Kasus lain, debitur UMKM semula tidak memeliki rekening sama sekali meski memiliki jaminan. Namun ketika dikunjungi dan diamati memang usahanya berjalan dengan baik, mereka berhasil mencairkan kredit dari Bank Sampoerna. Kebanyakan dari mereka juga naik kelas seiring pertumbuhan bisnis yang mereka jalani.

"Misalnya dengann nilai jaminan Rp1 miliar kemudian kita kasih pinjaman Rp500 juta. Berjalan 1 tahun ternyata dia sudah mulai, karena kita kasih edukasi kalau terima uang agar dimasukan ke rekening, dia sudah mulai bikin rekap penjualan harian. Maka dengan jaminan yang sama, jika semula plafon pinjamannya Rp500 juta kita naikan menjadi Rp600 juta, Rp700 juta, dengan bunga yang semula 15-16% menjadi 13-14%, terus begitu, naik kelas terus," papar Hendra.

Di sisi lain, Bank Sampoerna juga tidak bisa berkompetisi dengan bank yang lebih besar yang menawarkan bunga lebih rendah di kisaran 7-8% lantaran truktur cost of fund yang jauh lebih besar. "Nah ketika dia sudah naik kelas semuanya sudah mulus, bank besar bisa melayani dia dengan bunga 7-8% ya kita harus berbesar hati karena berarti kita berhasil membina mereka debitur UMKM naik kelas," ujar Hendra.

Namun pendampingan Bank Sampoerna turut membuah hasil berupa loyal customer. Seringkali nasabah yang sudah naik kelas tetap setia mengambil kredit di Bank Sampoerna meski ditawari oleh bank lain yang lebih besar.

"Sering kali kalau UMKM merasa terbantu kita, dia akan jadi loyal customer. Yang ekstrem itu kemarin sempat ada customer pengusaha koveksi seragam CS, perkantoran dan sebagainya usahanya turun pas pandemi. Pandemi itu pabriknya enggak buka, enggak ada jahitan atau order sehingga secara umum bank enggak berani masuk. Tapi kami masuk dengan mitigasi konservatif, ltv lebih rendah dan kita monitor terus kemajuan usahanya," kata Hendra.

Saat bisnis UMKM tersebut mulai pulih, mulai lah bank besar mendekatinya. Namun ia justru menolak sambil berkata bahwa kemana saja mereka ketika dirinya sedang susah. "Buat kita bankir itu (loyalitas debitur) kepuasan batin," imbuh Hendra.

Bahkan salah satu debitur UMKM lainnya, yang semula plafon pinjamannya Rp200 juta hingga kini sudah Rp4,8 miliar tetap setia bersama Bank Samperna selama 4 tahun belakangan meski sudah dibidik bank yang lebih besar. Ia tetap mempertahankan line credit di Bank Sampoerna, meski juga menerima tawaran bank lain namun dengan jaminan yang lain.

Menurut Hendra, siklus naik kelas masing-masing UMKM berbeda tergantung karakteristik bisnis yang ia geluti dan karkater si pebisnis sendiri apakah termasuk kreatif dan adaptif menghadapi dinamika pasar atau tidak.

"Kita kalau melihat debitur menjadi besar itu sama seperti melihat perkembangan anak sendiri. Ada yang omzet per bulannya dari cuma Rp50 juta sekarang bisa RP1 miliar. Dulu dia naik motor sekarang dia naik Inova itu sudah beda sekali. Itu yang bikin kita happy ya kalau kita melihat progress, kepuasan batin," kata Hendra

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa