Akurat

Bos OJK Sebut Sektor Jasa Keuangan Stabil Di September 2023

Aris Rismawan | 9 Oktober 2023, 19:25 WIB
Bos OJK Sebut Sektor Jasa Keuangan Stabil Di September 2023

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan sektor jasa keuangan nasional terjaga stabil. Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK September 2023.

"Hal ini didukung dengan permodalan yang kuat, kondisi likuiditas yang memadai, dan profil risiko yang terjaga sehingga meningkatkan optimisme bahwa sektor jasa keuangan nasional mampu memitigasi risiko higher for longer suku bunga global," kata Mahendra dalam konferensi pers RDK Bulanan OJK September 2023, Senin (9/10/2023)

Mahendra juga menjelaskan, bahwa divergensi kinerja perekonomian global masih terus berlanjut dengan inflasi di Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi di tengah solidnya kinerja perekonomian yang mendorong kebijakan bank sentral AS, The Fed yang diprediksi akan lebih hawkish.

Baca Juga: OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan RI Agustus 2023 Terjaga

Selanjutnya di Eropa, meskipun kinerja perekonomian terus melemah dan tingkat inflasi yang masih membuat otoritas moneter Eropa kembali menaikan suku bunga, namun menurutnya mengisyaratkan tingkat suku bunga saat ini telah mencapai puncaknya.

Kemudian Mahendra juga melaporkan, di China pemulihan ekonomi yang belum sesuai ekspektasi dan kinerja ekonomi yang masih di level pandemi meningkatkan kekhawatiran bagi pemulihan perekonomian global. Sedangkan insentif fiskal dan moneter yang dikeluarkan otoritas masih terbatas.

Hal tersebut menurut Mahendra yang mendorong berlanjutnya kenaikan yield surat utang di AS dan penguatan USD terhadap semua mata uang dunia termasuk negara berkembang.

“Sehingga menyebabkan tekanan outflow dari pasar emerging markets termasuk Indonesia. Volatilitas di pasar keuangan, baik di pasar saham, obligasi, dan nilai tukar juga dalam tren meningkat,” ucap Mahendra.

Sementara untuk perekonomian domestik, tingkat inflasi meningkat sebesar 3,27% (year on year/yoy) yang sejalan dengan ekspektasi pasar sebesar 3,3%.

“Ini didorong oleh kenaikan harga yang sebagian besar kelompok pengeluaran di kategori makanan, minuman dan tembakau,” ungkap Mahendra.

Mahendra menambahkan, tren pergerakan inflasi inti masih melambat, menurun menjadi 2,18% (yoy), yang tercermin dari rendahnya penjualan ritel.

Sebagai tambahan, kinerja sektor korporasi relatif masih baik terlihat dari PMI Manufaktur yang terus berada di zona ekspansi dan neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.