Deepfake dan AI Mulai Dimanfaatkan Penipu, Seberapa Berbahaya?

AKURAT.CO Kemajuan kecerdasan buatan (AI) membuat pembuatan foto, video, hingga suara palsu menjadi semakin mudah. Teknologi deepfake ini mulai dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk menjalankan aksi penipuan dengan cara yang lebih meyakinkan.
Ancaman tersebut bukan lagi sekadar teori. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah kasus menunjukkan bahwa deepfake telah digunakan untuk menyamar sebagai orang lain dan mengelabui korban agar mentransfer uang dalam jumlah besar.
Dikutip dari Reuters, Senin (27/7/2026), salah satu kasus yang menarik perhatian terjadi di Hong Kong pada awal 2024. Korbannya merupakan seorang pegawai bagian keuangan di sebuah perusahaan multinasional yang menerima undangan mengikuti konferensi video.
Sebelum rapat berlangsung, korban lebih dulu menerima pesan yang mengatasnamakan chief financial officer (CFO) perusahaan di Inggris. Karena tidak menemukan hal yang mencurigakan, ia pun mengikuti konferensi video tersebut.
Dalam konferensi itu, korban melihat sosok CFO beserta sejumlah rekan kerja lain yang tampak asli. Berdasarkan instruksi yang diterima saat rapat, korban kemudian menyetujui transfer dana ke lima rekening bank.
Total dana yang ditransfer mencapai sekitar HK$200 juta atau sekitar Rp459 miliar. Belakangan diketahui bahwa seluruh konferensi video tersebut merupakan rekaman yang dimanipulasi menggunakan teknologi deepfake.
Kasus itu menunjukkan bahwa pelaku kini tidak lagi hanya mengandalkan email phishing atau pesan singkat. Pelaku juga memanfaatkan AI untuk membuat identitas palsu yang terlihat dan terdengar meyakinkan sehingga korban lebih mudah mempercayai instruksi yang diberikan.
Kepolisian Hong Kong menduga video tersebut dibuat dari cuplikan video dan suara yang beredar di internet. Karena itu, pengguna internet perlu lebih berhati-hati saat menerima permintaan transfer uang atau informasi penting.
Beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
1. Selalu memverifikasi permintaan transfer dana melalui saluran komunikasi lain yang resmi.
2. Jangan langsung percaya pada panggilan video atau suara hanya karena wajah maupun suaranya terlihat asli.
3. Waspadai pesan yang meminta tindakan segera tanpa memberikan waktu untuk melakukan verifikasi.
Teknologi AI memang menawarkan banyak manfaat, tetapi juga membuka peluang munculnya modus penipuan baru. Karena itu, kebiasaan memverifikasi identitas sebelum mengambil keputusan menjadi salah satu upaya penting untuk mengurangi risiko menjadi korban.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T








