Akurat

Mengapa Cyberbullying Semakin Marak Terjadi di Internet? Ini Penyebab dan Dampaknya

Redaksi Akurat | 17 Februari 2026, 23:24 WIB
Mengapa Cyberbullying Semakin Marak Terjadi di Internet? Ini Penyebab dan Dampaknya

AKURAT.CO Perkembangan internet yang begitu pesat membawa banyak kemudahan dalam berkomunikasi dan berbagi informasi.

Media sosial, forum daring, hingga platform pesan instan kini menjadi ruang baru bagi masyarakat untuk berinteraksi tanpa batas ruang dan waktu. Namun, di balik manfaat tersebut, muncul fenomena negatif yang semakin sering terjadi, yaitu cyberbullying.

Cyberbullying adalah bentuk perundungan yang dilakukan melalui media digital, seperti komentar kasar, hinaan, ancaman, penyebaran hoaks, hingga pelecehan secara berulang. Fenomena ini tidak hanya dialami oleh figur publik, tetapi juga oleh masyarakat umum, termasuk anak-anak dan remaja.

Banyaknya kasus cyberbullying di internet menimbulkan pertanyaan besar: mengapa perilaku ini begitu marak dan sulit dihentikan?

Baca Juga: Pentingnya Literasi Digital Di Dunia Pendidikan Agar Terhidar Dari Hoaks Hingga Cyberbullying

Pengertian Cyberbullying

Cyberbullying merupakan tindakan menyakiti, merendahkan, atau mengintimidasi seseorang dengan menggunakan teknologi digital.

Bentuknya bisa berupa pesan teks yang menghina, unggahan foto atau video yang mempermalukan, komentar jahat di media sosial, hingga penyebaran informasi pribadi tanpa izin.

Berbeda dengan bullying konvensional, cyberbullying dapat terjadi kapan saja dan menjangkau korban secara luas dalam waktu singkat.

Penyebab Banyaknya Cyberbullying di Internet

1. Anonimitas di Dunia Maya

Internet memungkinkan seseorang menggunakan identitas palsu atau akun anonim. Kondisi ini membuat pelaku merasa aman dan bebas berkata kasar tanpa takut dikenali atau menerima konsekuensi langsung. Rasa “tidak terlihat” ini sering dimanfaatkan untuk melampiaskan emosi negatif.

2. Minimnya Empati dan Kontrol Sosial

Interaksi secara daring menghilangkan kontak tatap muka, sehingga pelaku tidak bisa melihat reaksi emosional korban secara langsung. Akibatnya, rasa empati berkurang dan pelaku cenderung menganggap perundungan sebagai candaan atau hal sepele.

3. Pengaruh Emosi dan Masalah Psikologis

Cyberbullying sering dilakukan oleh individu yang sedang mengalami tekanan emosional, stres, atau rasa tidak puas terhadap diri sendiri. Dengan merendahkan orang lain, pelaku merasa lebih berkuasa atau lebih unggul.

4. Lingkungan Sosial yang Mendukung Perilaku Negatif

Budaya saling mengejek, tren komentar pedas, dan normalisasi ujaran kebencian di media sosial membuat cyberbullying dianggap wajar. Tekanan dari teman sebaya juga dapat mendorong seseorang ikut melakukan perundungan agar diterima dalam kelompok.

5. Kurangnya Literasi Digital

Masih banyak pengguna internet yang belum memahami etika berkomunikasi di dunia digital. Ketidaktahuan tentang dampak jangka panjang dari kata-kata kasar membuat sebagian orang tidak menyadari bahwa perilakunya tergolong cyberbullying.

6. Intensitas Penggunaan Media Sosial

Semakin sering seseorang terpapar media sosial, semakin besar kemungkinan terlibat konflik daring. Aktivitas online yang tidak terkontrol dapat meningkatkan peluang terjadinya kesalahpahaman dan perilaku agresif.

Dampak Cyberbullying bagi Korban

Cyberbullying dapat menimbulkan dampak serius, baik secara psikologis maupun sosial.

Korban sering mengalami penurunan kepercayaan diri, stres, kecemasan, dan depresi.

Dalam kasus tertentu, cyberbullying juga menyebabkan korban menarik diri dari lingkungan sosial, mengalami gangguan tidur, bahkan muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri.

Dampak ini tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga bisa membekas dalam waktu lama. Oleh karena itu, cyberbullying tidak boleh dianggap sebagai masalah sepele atau sekadar konflik biasa di internet.

Dampak Cyberbullying bagi Pelaku

Tidak hanya merugikan korban, cyberbullying juga membawa dampak negatif bagi pelaku. Perilaku perundungan di dunia maya dapat membentuk kebiasaan agresif, menurunkan empati, serta membuat pelaku sulit membangun hubungan sosial yang sehat.

Dalam jangka panjang, pelaku cyberbullying berisiko mengalami masalah psikologis seperti rasa bersalah, kecemasan, dan kemarahan yang tidak terkontrol. 

Selain itu, tindakan cyberbullying dapat berujung pada konsekuensi sosial dan hukum, seperti sanksi dari sekolah, lingkungan kerja, hingga jeratan hukum akibat pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Jika dibiarkan, perilaku ini juga dapat merusak reputasi pelaku dan berdampak pada masa depan akademik maupun profesionalnya.

Baca Juga: Hindari Cyberbullying, Hati-hati Interaksi Di Media Sosial

Cara Mencegah Cyberbullying

Upaya pencegahan cyberbullying perlu dilakukan dari berbagai pihak.

Edukasi literasi digital sejak dini sangat penting agar pengguna internet memahami etika dan tanggung jawab dalam berkomunikasi.

Selain itu, peran keluarga dan lingkungan sekolah dibutuhkan untuk memberikan pengawasan serta ruang diskusi yang aman.

Pengguna internet juga dianjurkan memanfaatkan fitur keamanan seperti memblokir, melaporkan akun bermasalah, dan mengatur privasi.

Dukungan emosional bagi korban, baik dari orang terdekat maupun tenaga profesional, juga menjadi langkah penting dalam mengatasi dampak cyberbullying.

Banyaknya cyberbullying di internet disebabkan oleh kombinasi faktor anonim, rendahnya empati, tekanan emosional, serta kurangnya literasi digital.

Tanpa kesadaran bersama, perilaku ini akan terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan media sosial. 

Dengan memahami penyebab dan dampaknya, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam berinteraksi di dunia maya dan turut menciptakan lingkungan digital yang aman serta sehat bagi semua pengguna.

Vania Tri Yuniar (Magang) 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.