Perlombaan Industri AI Global Semakin Berisiko, Ahli Oxford Ingatkan Tragedi Hindenburg

AKURAT.CO Perlombaan perusahaan teknologi merilis produk kecerdasan buatan (AI) dinilai berisiko memicu insiden besar. Jika itu terjadi, kepercayaan publik terhadap teknologi AI bisa runtuh.
Peringatan tersebut disampaikan Prof Michael Wooldridge, pakar AI dari Universitas Oxford. Ia menilai tekanan bisnis yang tinggi membuat perusahaan terburu-buru membawa sistem AI ke pasar.
Menurutnya, banyak produk diluncurkan sebelum kemampuan dan celah risikonya dipahami sepenuhnya. Kondisi ini berpotensi memicu kejadian besar seperti tragedi Hindenburg pada 1937 yang mematikan industri kapal udara.
"Anda memiliki teknologi yang sangat, sangat menjanjikan, tetapi tidak diuji secara ketat seperti yang Anda inginkan, dan tekanan komersial di baliknya tak tertahankan," ujar Wooldridge, dikutip dari The Guardian, Rabu (18/2/2026).
Tekanan Komersial dan Risiko Sistemik
Wooldridge menilai maraknya chatbot berbasis large language models (LLM) menunjukkan dominasi kepentingan bisnis dibanding kehati-hatian. Banyak sistem dilepas ke publik dengan celah pengaman yang masih lemah dan pengujian yang belum optimal.
Ia memaparkan sejumlah skenario yang dianggap masuk akal, mulai dari pembaruan software mobil otonom yang berakibat fatal hingga serangan siber berbasis AI yang melumpuhkan maskapai. Ada pula risiko perusahaan besar kolaps akibat keputusan otomatis yang keliru.
Karena AI telah terintegrasi ke sektor transportasi, keuangan, kesehatan dan infrastruktur, dampaknya bisa meluas. Satu insiden besar saja berpotensi menjatuhkan kepercayaan global terhadap teknologi ini.
Masalah Fundamental Model AI Modern
Meski mengkritik arah pengembangan saat ini, Wooldridge tidak serta-merta menolak AI modern. Ia menilai ada jarak antara ekspektasi awal peneliti dan kenyataan di lapangan.
Banyak pihak membayangkan AI mampu menghitung solusi secara logis dengan jawaban yang akurat dan konsisten. Namun AI generatif bekerja dengan memprediksi kata berikutnya berdasarkan pola statistik dari data pelatihan.
Artinya, respons yang dihasilkan bersifat probabilistik, bukan hasil pemahaman utuh. Dampaknya, performanya bisa sangat baik di satu tugas tetapi keliru di konteks lain.
Masalahnya, AI tidak menyadari saat ia salah dan tetap menjawab dengan percaya diri. Ditambah lagi, tampilan percakapan yang mirip manusia membuat pengguna mudah menganggapnya sebagai entitas nyata, bukan sekadar alat digital.
Bahaya Antropomorfisme AI
Wooldridge menilai upaya perusahaan membuat AI terasa 'manusiawi' justru berbahaya. Ia menegaskan bahwa AI pada dasarnya adalah alat komputasi canggih, bukan entitas yang memiliki kesadaran atau pemahaman.
Menurutnya, pendekatan yang lebih transparan diperlukan. Alih-alih terdengar seperti manusia yang selalu yakin, AI seharusnya mampu menyatakan keterbatasannya secara jelas ketika data tidak mencukupi.
"Perusahaan ingin menyajikan AI dengan cara yang sangat mirip manusia, tetapi saya pikir itu adalah jalan yang sangat berbahaya untuk diambil," kata Wooldridge.
Industri AI Perlu Fase Kedewasaan
Peringatan ini muncul saat perusahaan teknologi global berlomba memperluas AI generatif. Perusahaan menghadirkan model multimodal, integrasi ke software produktivitas, hingga penerapan di kendaraan otonom.
Persaingan tersebut mempercepat adopsi AI di berbagai sektor industri. Namun, percepatan ini belum sepenuhnya diimbangi standar keamanan dan tata kelola yang kuat.
Tanpa regulasi dan pengawasan matang, risiko kegagalan besar tetap terbuka. Sejarah menunjukkan industri seperti penerbangan pun butuh waktu panjang dan reformasi sebelum benar-benar stabil.
Analisisnya, kepercayaan publik menjadi fondasi utama dalam perkembangan industri AI. Jika terjadi satu insiden besar, dampaknya bisa memicu regulasi yang lebih ketat, menekan arus investasi dan memperlambat inovasi teknologi ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 7Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 8Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 9Ingatkan Nusron Wahid Kooperatif, KPK Tegaskan Dukungan Pemerintah dalam Pemberantasan Korupsi
- 10Geledah Kantor Pusat Djarum, KPK Dalami Penyimpangan Penerimaan Cukai Rokok






