Studi Apple Ungkap Kelemahan Penalaran AI OpenAI, Google dan Meta

AKURAT.CO Sebuah studi terbaru dari Apple mengungkap bahwa kemampuan penalaran kecerdasan buatan (AI) belum sekuat yang selama ini dipercaya. Temuan ini menyoroti keterbatasan model bahasa besar (LLM) yang dikembangkan perusahaan teknologi global.
LLM dari OpenAI, Google dan Meta dikenal memiliki kemampuan analisis yang mengesankan. Namun, penelitian Apple menunjukkan bahwa kemampuan tersebut lebih dekat pada pengenalan pola daripada penalaran logis yang mendalam.
Selama ini, kemampuan penalaran AI sering diukur menggunakan tolok ukur populer seperti GSM8K. Masalahnya, dataset yang terlalu sering digunakan berpotensi membuat model AI hanya mengingat jawaban dari data pelatihan.
Untuk mengatasi bias tersebut, peneliti Apple mengembangkan metode evaluasi baru bernama GSM-Symbolic. Metode ini mempertahankan struktur soal, tetapi mengubah variabel seperti angka, nama dan tingkat kompleksitas.
Selain itu, peneliti juga menambahkan informasi yang tidak relevan ke dalam soal untuk menguji ketahanan penalaran AI. Tujuannya adalah melihat apakah model benar-benar memahami masalah atau hanya mengikuti pola tertentu.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa performa banyak model AI menurun ketika variabel soal diubah. Penurunan akurasi terjadi pada hampir semua model yang diuji, termasuk model dari OpenAI, Google dan Meta.
Dalam pengujian, model OpenAI cenderung memiliki performa lebih baik dibandingkan model sumber terbuka. Meski demikian, perbedaan hasil antar model tetap dianggap signifikan oleh para peneliti.
Penurunan performa menjadi lebih jelas ketika soal mengandung informasi tambahan yang tidak relevan. Banyak model AI justru salah menafsirkan detail tersebut dan memasukkannya ke dalam perhitungan.
Studi dari Apple mengungkap kelemahan serius dalam kemampuan LLM. "Cacat kritis dalam kemampuan LLM untuk benar-benar memahami konsep matematika dan membedakan informasi yang relevan untuk pemecahan masalah," dikutip dari Mashable, Minggu (1/2/2026).
Meski penelitian dilakukan oleh Apple yang juga mengembangkan teknologi AI sendiri, hasilnya tetap relevan bagi industri teknologi. Studi ini menjadi pengingat bahwa kemampuan AI perlu dinilai secara kritis, bukan hanya berdasarkan hype.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat







