MA Perkuat Vonis 4 Tahun Dosen PPDS Anestesi UNDIP dalam Kasus Pemerasan

AKURAT.CO Mahkamah Agung (MA) menguatkan hukuman empat tahun penjara terhadap dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Taufik Eko Nugroho, dalam perkara pemerasan di lingkungan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi UNDIP Semarang.
Putusan tersebut tertuang dalam Petikan Putusan Nomor 359 K/Pid/2026 yang sekaligus menolak permohonan kasasi dari terdakwa.
Dengan keputusan itu, vonis yang sebelumnya dijatuhkan Pengadilan Tinggi Jawa Tengah dinyatakan tetap berlaku.
Majelis hakim MA memutus perkara tersebut dalam rapat musyawarah pada 24 Februari 2026.
Sebelumnya, perkara ini telah diputus Pengadilan Negeri Semarang melalui Putusan Nomor 189/Pid.B/2025/PN Smg pada 1 Oktober 2025.
Dalam kasus yang sama, dua terdakwa lain yakni Zara Yupita Azra dan Sri Maryani masing-masing divonis sembilan bulan penjara.
Putusan tingkat pertama itu kemudian diperkuat Pengadilan Tinggi Jawa Tengah pada 19 November 2025.
Kasus ini mencuat setelah adanya investigasi internal Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait dugaan praktik perundungan dan pemerasan terhadap almarhumah Aulia Risma Lestari.
Baca Juga: Besok, Prabowo Akan Meresmikan Museum Marsinah dan Ribuan Kopdes Merah Putih di Nganjuk
Temuan tersebut kemudian dilaporkan ke kepolisian sebagai bagian dari langkah penindakan terhadap dugaan intimidasi di lingkungan pendidikan kedokteran.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, mengatakan pihaknya mengapresiasi proses hukum yang telah berjalan hingga berkekuatan hukum tetap.
“Kementerian Kesehatan mendukung penuh penegakan hukum demi menciptakan lingkungan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang aman, profesional, serta berintegritas,” ujar Aji, Jumat (15/5/2026).
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Polda Jawa Tengah dan Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah atas penanganan perkara tersebut.
“Kami berterima kasih kepada aparat penegak hukum yang telah menindaklanjuti kasus ini sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.
Kementerian Kesehatan menegaskan akan terus melakukan evaluasi terhadap sistem pendidikan kedokteran, khususnya program residensi, guna mencegah praktik perundungan, intimidasi, maupun penyalahgunaan kewenangan di lingkungan tenaga kesehatan.
“Kami akan memastikan peserta didik mendapatkan perlindungan dari segala bentuk praktik tidak terpuji dalam pendidikan kedokteran,” tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat









