Akurat

Aktivitas Terorisme Menurun, Pengamat: Kewaspadaan Tinggi Perlu Terus Dilakukan untuk Bentengi NKRI

Mukodah | 28 Desember 2023, 14:39 WIB
Aktivitas Terorisme Menurun, Pengamat: Kewaspadaan Tinggi Perlu Terus Dilakukan untuk Bentengi NKRI

AKURAT.CO Menurunnya aktivitas terorisme di penghujung tahun 2023 selayaknya menjadi kegembiraan bagi banyak orang.

Penangkapan beberapa terduga teroris di beberapa tampat baru-baru ini semakin menguatkan rasa aman dalam momentum perayaan Natal dan Tahun Baru 2024.

Namun demikian, kewaspadaan terhadap kemungkinan terburuk perlu terus dihadirkan sebagai benteng pertahanan dalam menjaga NKRI yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

"Penangkapan yang dilakukan Densus 88 Antiteror itu merupakan pengembangan dari penangkapan sebelumnya," kata pakar terorisme Noor Huda Ismail dalam keterangan di Jakarta, Kamis (28/12/2023).

Menurut pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian itu, potensi serangan terorisme terhadap perayaan Natal memang sudah menurun dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ia mengingatkan bahwa ancaman tersebut tetap ada.

Noor Huda mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada dan segera melaporkan segala aktivitas yang dinilai mencurigakan pada aparat atau penegak hukum setempat.

Baca Juga: Moderasi Beragama Cara Terbaik Perangi Radikalisme dan Terorisme

"Potensinya tetap ada tapi sudah amat sangat menurun," katanya.

Noor Huda berharap masyarakat dapat saling menghormati perbedaan agama dan merayakan Natal dengan penuh sukacita. Ia menegaskan bahwa perbedaan itu adalah sebuah kekayaan.

Ia mengatakan bahwa penangkapan dua terduga teroris di beberapa wilayah merupakan bukti bahwa Densus 88 Antiteror terus bekerja keras untuk mencegah serangan terorisme. Penangkapan ini sebenarnya merupakan pengembangan dari kasus sebelumnya karena diduga jaringan Jamaah Islamiyah (JI) masih aktif dalam mengumpulkan pendanaan dan persenjataan.

"Penangkapan anggota Jamaah Islamiyyah yang belum lama terjadi di Sidoarjo ini menunjukkan bahwa Densus 88 Antiteror terus memantau perkembangan jaringan terorisme di Indonesia," jelasnya.

Menurut Noor Huda, penangkapan dua terduga teroris tersebut menunjukkan bahwa potensi ancaman fisik terorisme menjelang Natal dan Tahun Baru 2024 semakin menurun.

Selain potensi ancaman terorisme, ia juga menyoroti narasi kelompok Islam konservatif yang mengharamkan umat Islam merayakan Natal. Narasi intoleran sejenis sebenarnya sering kali ditemukan di penghujung tahun.

"Narasi ini dapat mengancam toleransi di Indonesia. Pernyataan yang melarang memberikan selebrasi antarumat beragama justru berseberangan dengan semangat Bhineka Tunggal Ika," kata peraih gelar Ph.D dari Monash University ini.

Noor Huda mengatakan bahwa narasi semacam ini tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Padahal, Pancasila yang merupakan dasar negara Indonesia, menjamin kebebasan beragama bagi setiap warga negaranya.

Baca Juga: Guru Bisa Jadi Agen Pencegahan Radikal Terorisme Di Sekolah Dan Lingkungan

Ia berharap masyarakat dapat saling menghormati perbedaan agama dan merayakan Natal dengan penuh sukacita. Dengan banyaknya agama dan kepercayaan yang bisa tumbuh berdampingan di atas Bumi Pertiwi sejatinya menunjukkan keseriusan negara dalam melindungi rakyatnya.

"Perbedaan itu adalah sebuah kekayaan," ujarnya.

Lebih jauh, Noor Huda berharap masyarakat tetap semangat dan berpikir positif dalam melewati perayaan Natal dan Tahun Baru 2024. Ia menggarisbawahi tentang kemajemukan masyarakat Indonesia yang seharusnya menjadi kekuatan alami bangsa ini.

"Saya kira perbedaan itu adalah kekayaan kita sebagai sebuah bangsa. Kita perlu menghargai kekayaan yang dimiliki ini dengan menjadikan perbedaan itu bukan menjadi ancaman, namun justru sebagai source of power atau sumber kekuatan. Berbeda itu wajar, tapi kita harus ingat bahwa untuk menjadi bangsa yang kokoh, kita harus tetap bersama-sama walau tak sama," jelasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK