Akurat Logo

Dosa Besar Pelaku Perundungan, Azabnya di Akhirat Ngeri Sekali!

Lufaefi | 20 Oktober 2026, 10:00 WIB
Dosa Besar Pelaku Perundungan, Azabnya di Akhirat Ngeri Sekali!
Foto ilustrasi: Dugaan tindakan bullying atau perundungan di Pemalang yang membuat siswa kelas 2 SD meninggal dunia. (Freepik/freepik)

AKURAT.CO Perundungan atau bullying sering kali dianggap sebagai kenakalan biasa. Ada yang menganggap mengejek teman sebagai candaan, mempermalukan seseorang sebagai hiburan, atau mengucilkan orang lain sebagai bagian dari pergaulan. Padahal, ketika candaan membuat seseorang terluka, kehilangan harga diri, ketakutan, bahkan mengalami penderitaan berkepanjangan, persoalannya tidak lagi sederhana.

Islam sangat serius dalam menjaga kehormatan manusia. Al-Qur’an secara tegas melarang seseorang merendahkan, mencela, atau memberikan panggilan yang menyakitkan kepada orang lain. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11)

Ayat ini seolah sangat dekat dengan persoalan bullying yang terjadi hari ini. Seseorang bisa menjadi korban hanya karena bentuk tubuhnya, warna kulitnya, kondisi ekonomi keluarganya, cara berbicara, prestasi sekolah, bahkan karena penampilan yang dianggap berbeda.

Baca Juga: Cara Islami bagi Gen Z dalam Menyeimbangkan Usaha Maksimal dan Tawakkul di Tengah Ketidakpastian

Yang lebih mengkhawatirkan, perundungan kini tidak berhenti di lingkungan sekolah atau tempat kerja. Media sosial membuat penghinaan dapat menyebar jauh lebih luas. Satu video yang dibuat untuk mempermalukan seseorang dapat ditonton ribuan bahkan jutaan orang. Korban mungkin harus menanggung rasa malu jauh setelah pelaku melupakannya.

Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan agar kita tidak menyakiti orang lain secara fisik. Menyakiti dengan ucapan dan tindakan yang merendahkan juga merupakan persoalan moral yang serius.

Rasulullah SAW bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut memberikan ukuran sederhana tentang kualitas seorang Muslim: orang lain merasa aman dari ucapan dan perbuatannya.

Pelaku bullying perlu menyadari bahwa persoalannya bukan hanya antara dirinya dan korban. Ada hak manusia yang telah dilanggar. Dalam Islam, dosa yang berkaitan dengan manusia tidak cukup diselesaikan hanya dengan merasa bersalah kepada Allah. Ada hak korban yang harus diperhatikan.

Karena itu, orang yang pernah melakukan perundungan perlu segera berhenti, menyesali perbuatannya, meminta ampun kepada Allah, dan sebisa mungkin memperbaiki kerugian yang telah ditimbulkan. Meminta maaf memang tidak selalu langsung menghapus luka korban, tetapi merupakan bagian penting dari tanggung jawab moral.

Ancaman bagi orang yang gemar menzalimi orang lain juga tidak ringan. Allah berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ

“Janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim.” (QS. Ibrahim: 42)

Ayat ini menjadi peringatan bahwa tindakan yang mungkin dianggap sepele oleh manusia tidak luput dari pengetahuan Allah. Bisa jadi pelaku tertawa ketika mengejek seseorang. Teman-temannya ikut tertawa. Video perundungan bahkan mendapatkan banyak perhatian. Tetapi popularitas tidak mengubah sesuatu yang salah menjadi benar.

Bagi orang tua dan guru, persoalan ini juga menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya dengan mengejar nilai akademik. Anak perlu diajarkan bagaimana memperlakukan orang lain, menghormati perbedaan, mengendalikan emosi, dan memahami bahwa kekuatan tidak boleh digunakan untuk merendahkan yang lebih lemah.

Sementara bagi pengguna media sosial, penting untuk berhenti menjadi penonton yang ikut memperpanjang penderitaan korban. Memberikan komentar penghinaan, membagikan ulang video perundungan, atau menjadikan penderitaan orang lain sebagai bahan lelucon dapat membuat seseorang ikut memperbesar dampaknya.

Baca Juga: 5 Ritual Pagi Islami 10 Menit untuk Kembalikan Ketenangan Jiwa

Islam mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh seberapa kuat ia mampu menertawakan orang lain. Kemuliaan justru terlihat dari kemampuan menjaga lisan, tangan, dan perilaku agar tidak menjadi sumber penderitaan bagi sesama.

Maka, sebelum mengejek seseorang, pikirkan kembali. Sebelum mengunggah video yang mempermalukan orang lain, berhenti sejenak. Sebelum ikut tertawa ketika seseorang direndahkan, tanyakan kepada diri sendiri: jika saya berada di posisi korban, apakah saya ingin diperlakukan seperti itu?

Perundungan mungkin hanya berlangsung beberapa menit, tetapi luka yang ditinggalkannya bisa bertahun-tahun. Dan bagi pelakunya, persoalan itu tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi atau ketika unggahan di media sosial mulai tenggelam. Sebab, di hadapan Allah, setiap kezaliman memiliki pertanggungjawaban.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi