Akurat Logo

Sering Ghosting atau Di-Ghosting? Begini Cara Menjaga Hubungan yang Sehat dan Beradab dalam Islam

Lufaefi | 19 Oktober 2026, 08:00 WIB
Sering Ghosting atau Di-Ghosting? Begini Cara Menjaga Hubungan yang Sehat dan Beradab dalam Islam
Pertemanan Ala Islam - Istimewa

AKURAT.CO Istilah ghosting semakin akrab dalam hubungan sosial di era digital. Seseorang tiba-tiba berhenti membalas pesan, menghilang tanpa penjelasan, atau memutus komunikasi begitu saja setelah sebelumnya rutin berinteraksi. Di sisi lain, ada pula orang yang menjadi korban ghosting dan harus menghadapi pertanyaan tanpa jawaban: “Apa sebenarnya yang terjadi?”

Dalam hubungan pertemanan, pekerjaan, bahkan hubungan menuju pernikahan, pola komunikasi seperti ini bisa menimbulkan kebingungan dan luka emosional. Islam sendiri memberikan perhatian besar terhadap adab berkomunikasi dan menjaga perasaan sesama.

Al-Qur'an mengingatkan manusia agar berbicara dengan perkataan yang baik. Allah SWT berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83).

Ayat tersebut memang tidak secara khusus membahas ghosting. Namun, prinsipnya relevan: komunikasi dengan orang lain seharusnya dibangun di atas kebaikan, penghormatan, dan tanggung jawab moral.

Ghosting tidak selalu otomatis menjadi perbuatan haram. Ada kondisi tertentu ketika seseorang memang perlu menghentikan komunikasi, misalnya untuk menghindari hubungan yang tidak sehat, menghadapi ancaman, menjaga keselamatan, atau menetapkan batas pribadi. Dalam situasi demikian, menjaga jarak dapat menjadi langkah yang wajar.

Baca Juga: 5 Ritual Pagi Islami 10 Menit untuk Kembalikan Ketenangan Jiwa

Persoalannya muncul ketika seseorang sengaja menghilang tanpa alasan yang patut, padahal sebelumnya telah membangun kedekatan dan memberikan harapan. Apalagi jika tindakan tersebut dilakukan untuk mempermainkan, menghukum secara emosional, atau membuat orang lain terus menunggu tanpa kepastian.

Islam mengajarkan pentingnya kejujuran. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70).

Karena itu, jika seseorang memang tidak ingin melanjutkan komunikasi atau hubungan, menyampaikan keputusan dengan cara yang santun umumnya lebih beradab daripada menghilang tanpa penjelasan.

Misalnya, daripada terus membiarkan pesan seseorang tidak terjawab, seseorang dapat mengatakan, “Maaf, saya merasa hubungan komunikasi ini sebaiknya tidak dilanjutkan. Semoga kita tetap saling menghormati.” Kalimat sederhana seperti itu dapat memberikan kejelasan tanpa harus merendahkan.

Lalu bagaimana jika menjadi korban ghosting?

Pertama, jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Diamnya seseorang tidak selalu berarti kita tidak berharga. Kedua, jangan membalas dengan mempermalukan atau menyebarkan aib orang tersebut. Ketiga, berikan ruang dan jangan memaksakan komunikasi apabila pihak lain memang tidak ingin melanjutkannya.

Dalam Islam, menjaga kehormatan orang lain tetap penting meskipun hubungan berakhir. Rasulullah SAW bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya, tidak menelantarkannya, dan tidak merendahkannya.” (HR. Muslim).

Hubungan yang sehat bukan hubungan yang selalu berlangsung tanpa konflik. Justru kualitas hubungan terlihat dari bagaimana seseorang menyampaikan ketidaksetujuan, menetapkan batas, meminta maaf, dan mengakhiri hubungan dengan tetap menjaga martabat.

Baca Juga: Ini Rahasia Frugal Living ala Sahabat Nabi yang Bikin Hidup Tenang dan Berkah

Di era ketika satu pesan dapat dikirim dalam hitungan detik, memberi kejelasan sebenarnya bukan perkara sulit. Yang sering sulit adalah keberanian untuk jujur.

Karena itu, jika ingin meninggalkan sebuah hubungan, tinggalkan dengan adab. Jika sedang ditinggalkan, hadapi dengan harga diri. Sebab dalam perspektif Islam, hubungan antarmanusia bukan sekadar perkara perasaan, tetapi juga bagian dari akhlak dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi