Akurat Logo

Self-Care Islami: Mengenal Konsep 'Me Time' yang Benar Menurut Al-Qur'an untuk Menjaga Kesehatan Mental

Lufaefi | 19 Oktober 2026, 08:30 WIB
Self-Care Islami: Mengenal Konsep 'Me Time' yang Benar Menurut Al-Qur'an untuk Menjaga Kesehatan Mental
Ilustrasi. Gen Z menutupi masalah mental hingga berpura-pura paham demi bertahan di kantor. - Magnific

AKURAT.CO Di tengah rutinitas yang padat, seseorang kadang merasa kehabisan energi. Pekerjaan menumpuk, tuntutan keluarga datang silih berganti, sementara notifikasi ponsel seolah tidak pernah berhenti. Dalam kondisi seperti ini, istilah “me time” semakin populer sebagai cara mengambil jeda untuk memulihkan diri.

Dalam Islam, mengambil waktu untuk menenangkan diri bukan sesuatu yang otomatis bertentangan dengan kehidupan spiritual. Justru, Al-Qur'an mengajarkan manusia untuk menjaga keseimbangan hidup, termasuk memberi ruang bagi tubuh dan jiwa untuk beristirahat.

Salah satu prinsip penting dapat ditemukan dalam QS. Al-Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Ayat tersebut memberikan pesan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Karena itu, menjaga kemampuan fisik dan mental agar tetap mampu menjalankan tanggung jawab merupakan bagian dari sikap bijaksana.

Namun, “me time” dalam perspektif Islam tidak berarti melarikan diri dari kewajiban. Jeda seharusnya menjadi sarana untuk kembali menjalani kehidupan dengan kondisi yang lebih baik.

Baca Juga: Ramai Larangan Jilbab di Azerbaijan: Menakar Hak Pendidikan Versus Kedaulatan Negara dalam Islam

Bentuknya pun tidak harus mahal atau rumit. Seseorang bisa menghabiskan beberapa menit untuk membaca Al-Qur'an, berdzikir, berjalan santai, menikmati udara pagi, membaca buku, atau sekadar duduk dalam keheningan tanpa terus-menerus membuka media sosial.

Al-Qur'an bahkan menggambarkan ketenangan hati yang berkaitan erat dengan mengingat Allah. Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28)

Ayat ini dapat menjadi pengingat bahwa ketenangan tidak selalu ditemukan melalui hiburan. Ada kebutuhan spiritual yang juga perlu dirawat.

Konsep self-care Islami karena itu dapat dimulai dari hal sederhana: mengenali kapan tubuh membutuhkan istirahat, mengatur waktu, tidak memaksakan diri secara berlebihan, menjaga pola hidup, dan menyediakan waktu untuk beribadah secara lebih tenang.

Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan bahwa tubuh memiliki hak. Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari, Nabi SAW bersabda:

إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak yang harus kamu tunaikan.”

Pesannya cukup jelas. Kesalehan bukan berarti mengabaikan kebutuhan manusiawi. Tubuh yang lelah membutuhkan istirahat, sementara pikiran yang penuh membutuhkan jeda.

Meski demikian, ada batas yang perlu dijaga. Me time jangan berubah menjadi sikap egois, meninggalkan kewajiban, menghabiskan waktu dalam kemaksiatan, atau menjauh dari keluarga dan masyarakat tanpa alasan yang benar.

Baca Juga: 5 Ritual Pagi Islami 10 Menit untuk Kembalikan Ketenangan Jiwa

Self-care Islami pada akhirnya bukan sekadar “memanjakan diri”. Ia merupakan upaya merawat amanah yang diberikan Allah. Dengan tubuh yang lebih sehat, pikiran yang lebih jernih, dan hati yang lebih tenang, seseorang diharapkan mampu kembali menjalankan tanggung jawab dengan lebih baik.

Jadi, sesekali berhenti bukan berarti menyerah. Mengambil jeda bukan berarti malas. Dalam kehidupan yang serba cepat, mungkin justru ada kalanya manusia perlu berhenti sejenak agar dapat kembali melangkah dengan lebih kuat, sadar, dan dekat kepada Allah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi