Akurat Logo

Mengenal Reksa Dana Syariah untuk Pemula: Aman, Halal, dan Minim Risiko

Lufaefi | 29 September 2026, 07:30 WIB
Mengenal Reksa Dana Syariah untuk Pemula: Aman, Halal, dan Minim Risiko
ilustrasi Reksa Dana - Istimewa

AKURAT.CO Investasi kini tidak lagi hanya menjadi pilihan bagi mereka yang memiliki modal besar. Dengan perkembangan teknologi keuangan, masyarakat dapat mulai berinvestasi dengan dana yang relatif terjangkau.

Bagi Muslim, persoalannya bukan hanya bagaimana mendapatkan keuntungan, tetapi juga memastikan investasi dilakukan sesuai dengan prinsip syariah. Salah satu instrumen yang dapat menjadi pilihan adalah reksa dana syariah.

Reksa dana syariah merupakan wadah investasi kolektif yang menghimpun dana masyarakat untuk kemudian dikelola oleh Manajer Investasi ke dalam portofolio efek yang sesuai dengan prinsip syariah. OJK menjelaskan bahwa instrumen yang digunakan dapat berupa saham syariah, sukuk, dan instrumen syariah lainnya.

Dengan konsep tersebut, investor tidak harus memilih dan mengelola sendiri setiap saham atau efek yang menjadi tujuan investasi. Dana yang terkumpul dikelola oleh Manajer Investasi sesuai dengan kebijakan investasi produk yang dipilih.

Lalu, apa yang membuat reksa dana syariah berbeda dengan reksa dana konvensional?

Baca Juga: Doa Sebelum Berangkat Kerja, agar Diberi Rezeki yang Melimpah dan Berkah untuk Keluarga

Pertama, instrumen investasinya disaring berdasarkan prinsip syariah.

Reksa dana syariah tidak sembarangan menempatkan dana investor. Efek yang masuk ke dalam portofolio harus memenuhi kriteria syariah.

Dalam Daftar Efek Syariah OJK, misalnya, terdapat penyaringan terhadap kegiatan usaha yang bertentangan dengan prinsip syariah, seperti perjudian, jasa keuangan berbasis riba, serta kegiatan usaha yang berkaitan dengan barang atau jasa yang diharamkan. OJK juga menetapkan kriteria rasio keuangan tertentu dalam penyaringan saham syariah.

Saat ini, OJK juga menerbitkan Daftar Efek Syariah secara berkala. Untuk periode I 2026, daftar tersebut efektif sejak 1 Juni 2026 dan menjadi salah satu rujukan bagi pihak yang menggunakan efek syariah, termasuk Manajer Investasi pengelola reksa dana syariah.

Kedua, terdapat prinsip syariah dalam mekanisme pengelolaannya.

Reksa dana syariah memiliki landasan dalam Fatwa DSN-MUI Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi untuk Reksa Dana Syariah. Fatwa tersebut menjelaskan reksa dana syariah sebagai reksa dana yang beroperasi berdasarkan ketentuan dan prinsip syariah.

Dalam mekanismenya, hubungan antara pemodal dan Manajer Investasi menggunakan akad wakalah, sedangkan pengelolaan investasi memiliki mekanisme yang diatur berdasarkan prinsip syariah.

Ketiga, reksa dana syariah memiliki beberapa jenis.

Bagi pemula, penting mengetahui bahwa tidak semua reksa dana syariah memiliki karakter risiko yang sama.

Ada reksa dana syariah pasar uang yang berinvestasi pada instrumen pasar uang syariah dan efek syariah berpendapatan tetap dengan jangka waktu tertentu.

Ada pula reksa dana syariah pendapatan tetap yang sebagian besar portofolionya ditempatkan pada efek syariah berpendapatan tetap. Sementara reksa dana syariah saham menempatkan paling sedikit 80 persen Nilai Aktiva Bersihnya pada efek syariah bersifat ekuitas.

Selain itu terdapat reksa dana syariah campuran yang mengombinasikan efek syariah berupa saham, efek pendapatan tetap, dan instrumen pasar uang.

Karena karakter masing-masing berbeda, pemula tidak seharusnya memilih produk hanya berdasarkan label “syariah” atau iming-iming keuntungan.

Keempat, reksa dana syariah bukan investasi tanpa risiko.

Ini bagian yang penting dipahami sejak awal. Kata “syariah” tidak berarti investasi tersebut pasti untung atau bebas dari risiko.

OJK menjelaskan bahwa reksa dana syariah tetap menghadapi risiko berkurangnya nilai unit penyertaan, risiko likuiditas, risiko wanprestasi, serta risiko yang berasal dari perubahan kondisi ekonomi dan politik.

Karena itu, istilah “aman” dalam konteks reksa dana syariah sebaiknya tidak dimaknai sebagai jaminan bahwa modal pasti tidak berkurang. Yang dimaksud lebih tepat adalah adanya mekanisme dan instrumen investasi yang dirancang sesuai prinsip syariah serta berada dalam kerangka regulasi pasar modal.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi