Menolak untuk Mundur oleh Rais Aam, Gus Yahya Pernah Bilang: Harus Hormat pada Maqam Rais Aam!

AKURAT.CO Gelombang dinamika internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) makin panas. Di tengah desakan kuat dari Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar agar dirinya mundur dari jabatan Ketua Umum, pernyataan lama Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya kembali mencuat dan memantik tanya besar: apakah ia akan konsisten dengan ucapannya sendiri?
Jejak digital tidak pernah tidur. Sebuah kutipan Gus Yahya pada gelaran Munas-Konbes NU di Asrama Haji Pondok Gede, Selasa 19 September 2023, kembali beredar. Dalam kesempatan itu, Gus Yahya berkata lantang:
“Barang siapa tidak ada penghormatannya terhadap maqam rais ‘aam maka batal baiatnya.”
Ucapan ini, yang kala itu disampaikan sebagai penguatan struktur kepemimpinan jam’iyyah, kini terasa seperti boomerang politik—atau minimal menimbulkan rasa campur aduk bagi publik nahdliyin. Soalnya, hari ini justru dirinya yang sedang ditekan untuk tunduk pada keputusan Rais Aam.
Baca Juga: Dukung Keputusan Rais Aam, Poros Muda NU: Semua Kader Wajib Patuh Rais Aam Termasuk Gus Yahya!
Kontras antara Ucapan dan Sikap Hari Ini
Rais Aam PBNU secara resmi melalui Risalah Rapat Harian Syuriah PBNU tanggal 20 November 2025 meminta Gus Yahya mengundurkan diri dalam waktu tiga hari. Jika tidak, Syuriah PBNU akan mengeluarkan keputusan pemberhentian.
Namun Gus Yahya memilih bertahan.
Ia menegaskan bahwa amanat Muktamar ke-34 di Bandar Lampung adalah mandat lima tahun yang harus ia jalani hingga 2026. Dengan nada tegas, ia mengatakan tidak terbesit sedikit pun niat untuk mengundurkan diri.
Rapat-rapat Tertutup dan Manuver Organisasi
Setelah isu pemakzulan mencuat, Gus Yahya langsung mengumpulkan para ketua PWNU se-Indonesia di Hotel Navator Samator Surabaya. Pertemuan yang berlangsung tertutup itu dianggap sebagai langkah konsolidasi.
Yang menarik: ia mengaku belum menerima surat resmi dari Syuriah PBNU. Kalimat “kita lihat nanti” dan “tunggu informasinya” menunjukkan bahwa proses formal masih ia persoalkan. Ini membuat publik bertanya-tanya—apakah konflik ini soal substansi, prosedur, atau legitimasi internal?
Sementara itu, Poros Muda NU secara terbuka menyatakan dukungan penuh kepada Rais Aam. Mereka menilai seluruh kader NU tanpa terkecuali wajib patuh pada keputusan Rais Aam. Dari sisi mereka, struktur komando NU jelas: Rais Aam adalah otoritas tertinggi.
Konflik ini pun semakin terasa seperti duel tafsir: siapa yang lebih sah menafsirkan AD/ART dan tradisi kepemimpinan NU?
Pernyataan Lama yang Kini Jadi Cermin
Kembali ke kutipan 2023—bahwa siapa yang tidak menghormati maqam Rais Aam, batal baiatnya. Kalimat ini kini seolah jadi cermin yang diarahkan kepada Gus Yahya sendiri. Apakah ia sedang menegakkan prinsipnya sendiri dengan cara yang berbeda? Ataukah ini murni pertentangan dua otoritas yang sama-sama merasa benar?
Nuansa ini membuat publik NU, terutama kalangan muda, membaca situasi dengan lebih kritis. Ada yang melihatnya sebagai dinamika sehat dalam organisasi besar. Ada pula yang menganggapnya sinyal bahwa pola komunikasi elite PBNU perlu dibenahi agar tidak menimbulkan kesan kontradiktif.
Di tengah hiruk pikuk itu, satu hal tetap menjadi PR: apakah NU sedang menguji ulang model kepemimpinannya, atau ini hanya badai sesaat yang akan reda dengan mekanisme organisasi?
Baca Juga: Pasca Didesak Mundur oleh Rais Aam, Gus Yahya Kumpulkan Ketua PWNU se-Indonesia
Ketegangan yang Menunggu Jawaban
Sampai detik ini, belum ada titik terang. Proses internal berjalan, pernyataan publik berseliweran, dan dinamika pendukung masing-masing kubu makin terasa.
Yang jelas, kutipan lama itu telah kembali ke permukaan, ikut memperkeruh – atau mungkin justru memperjelas – posisi moral dan organisatoris dalam konflik ini.
NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia tengah diperhatikan banyak mata. Generasi muda pun makin vokal bertanya: apakah penghormatan itu berarti mengikuti instruksi tanpa debat, atau justru menjaga marwah organisasi dengan proses yang transparan dan profesional?
Waktu yang akan menjawab. Namun dinamika ini menunjukkan satu hal: NU sedang berada di fase refleksi kritis, dan apa pun hasilnya, akan menjadi preseden penting dalam sejarah jam’iyyah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









