Akurat

Sering Dilakukan Sehari-hari, 7 Kebiasaan Ini Bisa Rusak Spiritual Umat Islam

Fajar Rizky Ramadhan | 7 November 2025, 09:00 WIB
Sering Dilakukan Sehari-hari, 7 Kebiasaan Ini Bisa Rusak Spiritual Umat Islam

AKURAT.CO Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh distraksi, banyak kebiasaan kecil yang tanpa disadari justru merusak kualitas spiritual umat Islam.

Padahal, kerusakan spiritual tidak selalu datang dari dosa besar; kadang ia bermula dari perilaku ringan yang diulang setiap hari hingga akhirnya mengikis kepekaan hati.

Para ulama menyebut fenomena ini sebagai ghaflah—kelalaian hati yang membuat seseorang kehilangan rasa hadir di hadapan Allah.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis bahwa hati manusia bagaikan cermin: semakin banyak debu kelalaian menempel, semakin buram ia dalam memantulkan cahaya Ilahi.

Baca Juga: Ada Peran Ulama Indonesia di Balik Kemenangan Zohran Mamdani di New York, Ini Sosoknya

Nah, berikut tujuh kebiasaan yang sering dianggap sepele tapi bisa pelan-pelan merusak spiritualitas seorang Muslim.

  1. Mengabaikan Waktu Shalat
    Menunda shalat tanpa alasan syar’i adalah tanda awal melemahnya spiritualitas. Rasulullah SAW bersabda, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah shalat pada waktunya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ketika seseorang mulai menyepelekan waktu shalat, itu pertanda bahwa hubungan batinnya dengan Allah sedang menurun.

  2. Scrolling Tanpa Tujuan hingga Lupa Dzikir
    Fenomena doomscrolling di media sosial membuat banyak orang tenggelam dalam informasi tanpa makna. Padahal, setiap menit yang dihabiskan tanpa dzikir adalah waktu yang hilang dari kesadaran Ilahi. Allah berfirman, “Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205).

  3. Ghibah dan Candaan yang Melukai Hati Orang Lain
    Obrolan ringan yang berubah jadi gosip sering dianggap hiburan. Namun dalam Al-Qur’an, Allah mengibaratkan ghibah seperti memakan daging saudara sendiri (QS. Al-Hujurat: 12). Bahkan canda yang berlebihan hingga menyakiti hati orang lain termasuk bentuk penyimpangan akhlak yang merusak kesucian jiwa.

  4. Pamer Amal di Media Sosial
    Kebiasaan mempublikasikan setiap aktivitas ibadah dengan tujuan mendapat validasi sosial bisa menjerumuskan pada riya’. Imam Ibn Rajab al-Hanbali menegaskan, riya’ adalah penyakit hati yang paling halus—kadang pelakunya bahkan tidak sadar bahwa niatnya sudah berubah dari ikhlas menjadi pencitraan spiritual.

  5. Kurang Syukur atas Nikmat Kecil
    Rasa tidak puas, terus membandingkan diri dengan orang lain, dan fokus pada kekurangan dapat membuat hati keras. Padahal, Allah berjanji, “Jika kamu bersyukur, pasti Aku tambahkan nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7). Kurangnya syukur menumpulkan rasa bahagia dan menjauhkan seseorang dari ketenangan batin.

  6. Menyepelekan Dosa Kecil
    Rasulullah SAW mengingatkan, “Jauhilah dosa-dosa kecil, karena jika terkumpul pada seseorang, ia akan membinasakannya.” (HR. Ahmad). Dosa kecil yang dibiarkan terus menumpuk bisa menutup pintu kesadaran spiritual dan menjauhkan seseorang dari cahaya hidayah.

  7. Melupakan Tadabbur Al-Qur’an
    Membaca Al-Qur’an tanpa merenungi maknanya membuat ibadah ini kehilangan ruh. Padahal, Allah menegur, “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an?” (QS. Muhammad: 24). Dalam pandangan para sufi dan ahli tafsir, tadabbur adalah jembatan antara ilmu dan iman—ketika hilang, hubungan spiritual dengan Allah pun ikut melemah.

Baca Juga: Jemaah Haji 2026 Mulai Berangkat 22 April, Wukuf di Arafah 26 Mei

Pada akhirnya, spiritualitas bukan hanya soal ritual, tapi juga tentang menjaga hati agar tetap hidup dan jernih. Seperti dikatakan Ibn Qayyim al-Jauziyyah, “Hati yang lalai ibarat ikan di luar air; semakin lama ia jauh dari dzikir, semakin sekarat ruhnya.”

Karena itu, mari mulai dari hal kecil: shalat tepat waktu, batasi waktu di media sosial, dan biasakan berdialog dengan Allah melalui dzikir dan Al-Qur’an. Sebab kerusakan spiritual tidak terjadi dalam semalam—ia tumbuh perlahan, dari kebiasaan yang kita biarkan tanpa sadar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.