Nabilla Tashandra Bagikan Tips Umrah Mandiri: Paling Utama Riset sebelum Berangkat ke Tanah Suci

AKURAT.CO Fenomena umrah mandiri atau perjalanan ibadah tanpa melalui agen travel semakin diminati, terutama di kalangan generasi muda. Sejak Kementerian Agama melegalkan sistem ini, banyak jemaah memilih untuk mengatur sendiri perjalanan mereka demi fleksibilitas dan efisiensi biaya.
Nabilla Tashandra, perempuan asal Jakarta yang melaksanakan umrah mandiri pada November 2025, berbagi pengalamannya tentang pentingnya riset sebelum berangkat. Ia menilai, kebebasan yang ditawarkan umrah mandiri justru menuntut kesiapan lebih besar.
“Umrah mandiri belum tentu cocok untuk semua orang. Jadi sebaiknya riset dulu, apakah kita sanggup mengurus semuanya sendiri—mulai dari visa, transportasi, sampai akomodasi,” ujarnya kepada wartawan, Senin (3/11/2025).
Menurut Tasha, hal pertama yang wajib dilakukan adalah menggali informasi sebanyak mungkin. Ia menyarankan calon jemaah untuk belajar dari pengalaman orang lain, baik lewat teman, komunitas, maupun konten di internet.
Baca Juga: Soal Umrah Mandiri, Wamenhaj: Saudi Saja Membolehkan
“Cari tahu sebanyak-banyaknya. Sekarang banyak orang Indonesia yang kerja atau tinggal di Arab Saudi, bisa jadi kenalan kalau sewaktu-waktu butuh bantuan,” tambahnya.
Selain riset, Tasha menekankan pentingnya membuat daftar barang bawaan secara rinci. Karena berangkat tanpa pendamping travel, semua urusan harus dikelola sendiri.
“Bikin checklist, jangan cuma mikirin ibadah, tapi juga dokumen penting seperti paspor, tiket, dan perlengkapan pribadi. Kalau ada yang tertinggal, bisa ribet banget,” katanya.
Saat berada di Tanah Suci, Tasha mengandalkan teknologi digital untuk membantu orientasi dan komunikasi. Google Translate dan Google Maps, menurutnya, menjadi penyelamat utama.
“Banyak orang Arab yang enggak bisa bahasa Inggris, dan kita juga kadang enggak bisa bahasa Arab. Jadi Google Translate wajib banget,” ujarnya sambil tertawa.
Ia bahkan sempat berkomunikasi dengan sopir Uber lewat fitur voice translate karena kendala bahasa. “Lucu juga sih, ngobrol pakai Google Voice. Tapi ya, efektif,” kenangnya.
Google Maps pun terbukti membantu saat ia sempat tersesat di sekitar Masjidil Haram. “Pintunya banyak banget, sempat bingung arah pulang. Tapi akhirnya ketemu lagi gara-gara lihat Maps,” ujarnya.
Baca Juga: Bertemu Dubes Arab Saudi, Menteri Haji dan Umrah RI Bahas Persiapan Haji 2026
Bagi Tasha, pengalaman umrah mandiri memberi makna spiritual yang lebih dalam. Ia merasa lebih mandiri, lebih tenang, dan lebih menghargai setiap proses ibadah.
“Melihat Ka’bah untuk pertama kali dengan perjuangan sendiri itu rasanya luar biasa. Semua capek dan khawatir langsung hilang,” pungkasnya.
Fenomena umrah mandiri kini mulai membentuk gaya baru dalam perjalanan spiritual masyarakat modern: lebih personal, berbasis riset, dan sangat bergantung pada teknologi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat








