Akurat

Nabilla Tashandra Bagikan Tips Umrah Mandiri: Paling Utama Riset sebelum Berangkat ke Tanah Suci

Fajar Rizky Ramadhan | 4 November 2025, 08:00 WIB
Nabilla Tashandra Bagikan Tips Umrah Mandiri: Paling Utama Riset sebelum Berangkat ke Tanah Suci

AKURAT.CO Fenomena umrah mandiri atau perjalanan ibadah tanpa melalui agen travel semakin diminati, terutama di kalangan generasi muda. Sejak Kementerian Agama melegalkan sistem ini, banyak jemaah memilih untuk mengatur sendiri perjalanan mereka demi fleksibilitas dan efisiensi biaya.

Nabilla Tashandra, perempuan asal Jakarta yang melaksanakan umrah mandiri pada November 2025, berbagi pengalamannya tentang pentingnya riset sebelum berangkat. Ia menilai, kebebasan yang ditawarkan umrah mandiri justru menuntut kesiapan lebih besar.

“Umrah mandiri belum tentu cocok untuk semua orang. Jadi sebaiknya riset dulu, apakah kita sanggup mengurus semuanya sendiri—mulai dari visa, transportasi, sampai akomodasi,” ujarnya kepada wartawan, Senin (3/11/2025).

Menurut Tasha, hal pertama yang wajib dilakukan adalah menggali informasi sebanyak mungkin. Ia menyarankan calon jemaah untuk belajar dari pengalaman orang lain, baik lewat teman, komunitas, maupun konten di internet.

Baca Juga: Soal Umrah Mandiri, Wamenhaj: Saudi Saja Membolehkan

“Cari tahu sebanyak-banyaknya. Sekarang banyak orang Indonesia yang kerja atau tinggal di Arab Saudi, bisa jadi kenalan kalau sewaktu-waktu butuh bantuan,” tambahnya.

Selain riset, Tasha menekankan pentingnya membuat daftar barang bawaan secara rinci. Karena berangkat tanpa pendamping travel, semua urusan harus dikelola sendiri.

“Bikin checklist, jangan cuma mikirin ibadah, tapi juga dokumen penting seperti paspor, tiket, dan perlengkapan pribadi. Kalau ada yang tertinggal, bisa ribet banget,” katanya.

Saat berada di Tanah Suci, Tasha mengandalkan teknologi digital untuk membantu orientasi dan komunikasi. Google Translate dan Google Maps, menurutnya, menjadi penyelamat utama.

“Banyak orang Arab yang enggak bisa bahasa Inggris, dan kita juga kadang enggak bisa bahasa Arab. Jadi Google Translate wajib banget,” ujarnya sambil tertawa.

Ia bahkan sempat berkomunikasi dengan sopir Uber lewat fitur voice translate karena kendala bahasa. “Lucu juga sih, ngobrol pakai Google Voice. Tapi ya, efektif,” kenangnya.

Google Maps pun terbukti membantu saat ia sempat tersesat di sekitar Masjidil Haram. “Pintunya banyak banget, sempat bingung arah pulang. Tapi akhirnya ketemu lagi gara-gara lihat Maps,” ujarnya.

Baca Juga: Bertemu Dubes Arab Saudi, Menteri Haji dan Umrah RI Bahas Persiapan Haji 2026

Bagi Tasha, pengalaman umrah mandiri memberi makna spiritual yang lebih dalam. Ia merasa lebih mandiri, lebih tenang, dan lebih menghargai setiap proses ibadah.

“Melihat Ka’bah untuk pertama kali dengan perjuangan sendiri itu rasanya luar biasa. Semua capek dan khawatir langsung hilang,” pungkasnya.

Fenomena umrah mandiri kini mulai membentuk gaya baru dalam perjalanan spiritual masyarakat modern: lebih personal, berbasis riset, dan sangat bergantung pada teknologi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.