Akurat

Pemerintahan Dinasti Abbasiyyah Dikenal dengan Sistem Kepemimpinan yang Seperti Apa?

Fajar Rizky Ramadhan | 12 September 2025, 06:30 WIB
Pemerintahan Dinasti Abbasiyyah Dikenal dengan Sistem Kepemimpinan yang Seperti Apa?

AKURAT.CO Sejarah Islam mencatat bahwa Dinasti Abbasiyyah merupakan salah satu periode pemerintahan paling panjang dan berpengaruh dalam peradaban Muslim.

Dinasti ini berdiri pada tahun 750 M setelah runtuhnya Dinasti Umayyah, dengan Abu al-Abbas as-Saffah sebagai khalifah pertama. Pusat pemerintahan kemudian berkembang pesat di Baghdad yang didirikan oleh Khalifah al-Mansur.

Pertanyaan yang kerap muncul adalah, sistem kepemimpinan seperti apa yang dijalankan oleh Dinasti Abbasiyyah sehingga mampu bertahan dan melahirkan peradaban gemilang?

Pada dasarnya, kepemimpinan Abbasiyyah dikenal dengan karakter birokratis dan sentralistis.

Khalifah tetap memegang kekuasaan tertinggi dalam urusan agama maupun politik, tetapi dalam praktiknya kepemimpinan dibantu oleh sistem administrasi yang rapi dan pejabat-pejabat negara yang kompeten.

Para wazir atau perdana menteri, qadhi al-qudhat atau hakim agung, gubernur wilayah, hingga pejabat pajak memainkan peran penting dalam menggerakkan roda pemerintahan.

Model ini menunjukkan pergeseran dari pola sederhana pada masa Umayyah menuju pemerintahan yang lebih terorganisir dan modern.

Baca Juga: 50 Nama Anak Laki-Laki dalam Islam yang Kekinian

Salah satu ciri khas kepemimpinan Abbasiyyah adalah pengaruh besar dari tradisi Persia. Hal ini tampak dalam struktur pemerintahan yang mengadopsi sistem diwan atau departemen, lengkap dengan pembagian tugas yang jelas.

Khalifah tidak lagi bisa mengurus seluruh urusan negara sendirian, sehingga lahir pembagian wewenang dalam bidang keuangan, militer, administrasi, dan hukum. Meski begitu, semua departemen tetap bertanggung jawab langsung kepada khalifah.

Selain birokrasi, kepemimpinan Abbasiyyah juga identik dengan dukungan pada perkembangan ilmu pengetahuan. Para khalifah, terutama Harun al-Rasyid dan al-Ma’mun, dikenal sebagai pelindung ulama, ilmuwan, dan seniman.

Mereka mendirikan Bayt al-Hikmah, sebuah lembaga yang mengumpulkan, menerjemahkan, dan mengembangkan karya-karya ilmiah dari Yunani, Persia, dan India.

Hal ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan Abbasiyyah tidak hanya fokus pada administrasi pemerintahan, tetapi juga pada pembangunan intelektual umat.

Namun, sistem kepemimpinan yang birokratis ini juga memiliki kelemahan. Semakin luasnya wilayah dan banyaknya pejabat membuat khalifah tidak selalu bisa mengendalikan semua urusan secara langsung.

Dalam beberapa periode, kekuasaan wazir bahkan lebih dominan daripada khalifah sendiri. Hal ini memunculkan ketegangan politik internal yang kadang berujung pada pemberontakan dan perpecahan wilayah.

Baca Juga: Hukum Mengucapkan Ucapan Selamat Ulang Tahun dalam Islam

Dengan demikian, sistem kepemimpinan Dinasti Abbasiyyah dapat dipahami sebagai kepemimpinan yang sentralistis namun dijalankan melalui birokrasi yang kompleks.

Khalifah tetap menjadi simbol tertinggi agama dan politik, tetapi keberlangsungan pemerintahan sangat ditopang oleh administrasi dan struktur kelembagaan yang kuat.

Pola ini tidak hanya memberi stabilitas bagi kerajaan, tetapi juga menjadi landasan tumbuhnya peradaban Islam yang mencapai puncak kejayaan intelektual pada masa tersebut.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.