7 Strategi Dakwah Islam pada Masa Umayyah, Jarang Diketahui Para Da’i Indonesia

AKURAT.CO Sejarah Islam mencatat, masa kekhalifahan Umayyah (661–750 M) menjadi periode penting dalam perluasan wilayah Islam. Di bawah kepemimpinan dinasti ini, wilayah kekuasaan Islam membentang dari Spanyol hingga India.
Tidak hanya kekuatan militer yang berperan, tetapi strategi dakwah juga menjadi kunci penyebaran Islam ke berbagai penjuru dunia. Menariknya, beberapa strategi dakwah pada masa Umayyah ini jarang diketahui oleh para da’i di Indonesia.
Berikut tujuh strategi dakwah yang dijalankan pada masa itu.
Pertama, dakwah melalui jalur politik. Kekuasaan yang luas memberi ruang bagi khalifah untuk mengintegrasikan dakwah ke dalam kebijakan negara.
Setiap daerah yang ditaklukkan tidak hanya ditata secara administratif, tetapi juga dikenalkan dengan ajaran Islam secara perlahan. Pendekatan ini membuat Islam bukan hanya hadir sebagai agama, tetapi juga sebagai sistem sosial dan politik.
Kedua, dakwah melalui pendidikan. Dinasti Umayyah membangun masjid-masjid besar yang juga berfungsi sebagai pusat ilmu. Masjid Umayyah di Damaskus, misalnya, menjadi tempat berkembangnya tradisi keilmuan. Para ulama didorong untuk mengajar tafsir, hadis, fikih, dan bahasa Arab, sehingga Islam tersebar lewat jalur intelektual.
Baca Juga: Tata Cara dan Bacaan Niat Sholat Gerhana Bulan Total 7 September 2025
Ketiga, dakwah dengan penguatan bahasa Arab. Bahasa menjadi sarana penting dakwah. Pada masa Umayyah, bahasa Arab ditetapkan sebagai bahasa resmi administrasi. Langkah ini bukan semata kebijakan birokrasi, tetapi juga mempercepat proses internalisasi ajaran Islam di wilayah non-Arab seperti Persia, Mesir, dan Afrika Utara.
Keempat, dakwah melalui kesenian dan arsitektur. Peninggalan seperti Kubah Batu (Dome of the Rock) di Yerusalem dan masjid-masjid megah bukan sekadar simbol politik, melainkan juga sarana dakwah visual. Arsitektur indah dengan kaligrafi Al-Qur’an memperkenalkan Islam secara estetis kepada masyarakat yang belum familiar dengan ajarannya.
Kelima, dakwah melalui perdagangan. Para pedagang Muslim pada masa Umayyah memainkan peran penting menyebarkan Islam ke wilayah baru. Jalur perdagangan Laut Tengah hingga Samudra Hindia menjadi medium perjumpaan antarbudaya. Di sinilah ajaran Islam diperkenalkan secara damai melalui interaksi dagang yang jujur dan etis.
Keenam, dakwah lewat hukum dan administrasi. Khalifah Abdul Malik bin Marwan mengembangkan sistem mata uang Islam dan kebijakan hukum yang berlandaskan prinsip syariat. Hal ini membuat masyarakat non-Muslim melihat Islam tidak hanya sebagai agama, tetapi juga sebagai tatanan hidup yang adil dan teratur.
Ketujuh, dakwah dengan keteladanan pribadi para ulama dan pejabat. Meski dinasti Umayyah sering dikritik karena kecenderungan politik dinasti, banyak pejabat, qadhi, dan ulama pada masa itu yang menunjukkan akhlak mulia. Teladan pribadi ini menjadi daya tarik tersendiri yang membuat banyak orang masuk Islam tanpa paksaan.
Baca Juga: Tiga Non-Muslim Bersyahadat di Malang: Dakwah Zakir Naik dan Dinamika Konversi Agama di Ruang Publik
Jika dibandingkan dengan praktik dakwah di Indonesia saat ini, terlihat ada beberapa strategi yang relevan namun belum sepenuhnya dimanfaatkan. Misalnya, penggunaan seni, arsitektur, dan bahasa sebagai sarana dakwah yang halus dan efektif.
Para da’i di Indonesia lebih sering menekankan ceramah dan tabligh, tetapi kurang memberi perhatian pada pendekatan kultural yang juga terbukti berhasil pada masa lalu.
Masa Umayyah memberi pelajaran bahwa dakwah bukan sekadar penyampaian lisan, tetapi sebuah strategi menyeluruh yang mencakup pendidikan, kebijakan, seni, hingga teladan kehidupan sehari-hari. Mungkin di sinilah letak pentingnya menggali kembali sejarah dakwah klasik untuk memperkaya metode dakwah kontemporer.
Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









