Asal-usul Bulan Safar Diklaim sebagai Bulan Sial dan Banyak Musibah

AKURAT.CO Dalam sejarah panjang peradaban Arab, sebelum datangnya Islam, bulan Safar kerap kali dikaitkan dengan kesialan, malapetaka, dan bala bencana.
Kepercayaan ini diwariskan secara turun-temurun dan masih membekas hingga ke tengah masyarakat Muslim hari ini.
Bukan hanya menjadi keyakinan populer, anggapan tersebut bahkan sering kali memengaruhi keputusan penting dalam hidup sebagian orang, seperti menunda pernikahan, tidak bepergian jauh, atau tidak mengadakan acara besar selama bulan Safar. Pertanyaannya, dari mana asal-usul keyakinan bahwa Safar adalah bulan sial?
Untuk memahami akar historis kepercayaan ini, kita perlu kembali ke konteks sosial masyarakat Arab pra-Islam (jahiliyah). Dalam kebudayaan mereka, kalender Hijriah yang digunakan bukan hanya penanda waktu, tetapi juga sarat dengan tafsir astrologi dan mitos.
Bulan Safar menempati tempat tersendiri dalam kalender itu. Setelah bulan Muharram —yang dihormati sebagai bulan haram (bulan suci yang diharamkan peperangan)— masyarakat Arab jahiliyah memanfaatkan bulan Safar untuk melanjutkan peperangan dan ekspedisi balas dendam. Maka tidak mengherankan bila Safar diasosiasikan dengan kekerasan, darah, dan musibah.
Baca Juga: 5 Hal Positif yang Patut Anda Coba di Bulan Safar
Bahkan istilah “Safar” sendiri oleh sebagian ahli bahasa dikaitkan dengan kata “ṣafr” yang berarti kosong. Ada yang menafsirkan bahwa rumah-rumah di bulan ini menjadi kosong karena banyak laki-laki keluar untuk berperang atau merampok kafilah.
Rumah yang kosong, jiwa yang ditinggal, dan konflik yang berkobar menjadi narasi kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi, dan lambat laun membentuk kesan bahwa bulan Safar adalah bulan yang "tidak membawa berkah".
Islam datang untuk merombak total paradigma ini. Rasulullah saw meluruskan pemahaman jahiliyah tentang waktu, sebab-musabab bencana, dan hubungan antara waktu dan takdir. Dalam hadis sahih, beliau bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ
“Tidak ada penularan penyakit tanpa izin Allah, tidak ada thiyarah (merasa sial karena tanda tertentu), tidak ada hama, dan tidak ada (kesialan karena) bulan Safar.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Penyebutan “Safar” dalam hadis tersebut secara eksplisit menegaskan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap kesialan bulan itu adalah batil. Nabi ingin menghapus anggapan bahwa waktu bisa menjadi sumber kesialan. Sebab dalam Islam, yang memberi manfaat dan mudarat hanyalah Allah, bukan bulan, hari, atau angka.
Namun, meskipun secara teologis kepercayaan ini telah dibantah, dalam kenyataannya tradisi mitos bulan Safar terus mengendap dalam kebudayaan Islam di banyak wilayah. Hal ini terjadi karena berbagai sebab.
Pertama, adanya sinkretisme budaya lokal yang kuat antara Islam dan kepercayaan adat. Kedua, literasi keagamaan masyarakat yang belum merata. Ketiga, banyak tokoh masyarakat atau pemuka agama yang justru melanggengkan mitos tersebut melalui ritual keagamaan tanpa basis dalil yang sahih.
Salah satu bentuk tradisi yang muncul akibat kepercayaan ini adalah pelaksanaan “mandi Safar”, yang konon dilakukan pada hari Rabu terakhir bulan Safar untuk menolak bala. Tradisi ini berkembang di beberapa wilayah Nusantara, bahkan menjadi bagian dari perayaan adat.
Padahal, tidak ada satu pun hadis yang sahih yang menyebut adanya amalan atau zikir khusus untuk hari Rabu terakhir Safar. Praktik ini lebih merupakan warisan budaya yang bercampur dengan unsur mistik dan animisme lokal, bukan bagian dari ajaran Islam yang bersumber dari Nabi.
Demikian pula dengan tradisi menghindari akad nikah di bulan Safar. Dalam sejarah Rasulullah, tidak ditemukan larangan menikah pada bulan tertentu, termasuk Safar. Bahkan, Rasulullah sendiri melangsungkan berbagai peristiwa penting dalam hidupnya pada bulan Safar.
Salah satu di antaranya adalah wafatnya Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah yang menjadi awal masa kesedihan (‘ām al-huzn), yang kemudian dijadikan pelajaran spiritual, bukan alasan untuk menjadikan bulan itu sial secara mutlak.
Dalam ranah tafsir, para ulama juga menjelaskan bahwa tidak ada bulan yang secara zat membawa berkah atau musibah, karena semuanya adalah makhluk Allah yang netral. Allah berfirman:
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا
“Katakanlah: Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami.”
(QS. At-Taubah: 51)
Ayat ini menjelaskan bahwa segala peristiwa yang menimpa manusia tidak bergantung pada bulan atau hari tertentu, melainkan pada qadha dan qadar Allah semata. Oleh karena itu, membatasi aktivitas atau merubah rencana hidup karena takut bulan tertentu membawa sial adalah bentuk kelemahan akidah dan bentuk ketergantungan pada sesuatu selain Allah.
Sebagian ulama bahkan menegaskan bahwa mempercayai waktu tertentu membawa sial tanpa dalil syar’i dapat tergelincir pada bentuk syirik kecil. Ini karena keyakinan tersebut menyandarkan pengaruh kepada selain Allah, meskipun tidak secara eksplisit menyembahnya. Dalam kaidah tauhid, segala bentuk ketergantungan yang tidak berlandaskan pada Allah atau wahyu bisa termasuk dalam ranah penyimpangan.
Baca Juga: Keistimewaan Bulan Safar dalam Al-Qur'an dan Hadis
Dengan demikian, penting bagi umat Islam untuk membongkar akar mitos ini dan menggantinya dengan pemahaman tauhid yang murni dan rasional. Bulan Safar bukan bulan sial. Ia adalah salah satu dari dua belas bulan dalam kalender Hijriah yang diberlakukan Allah untuk mengatur waktu umat manusia, sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah.”
(QS. At-Taubah: 36)
Tidak ada satu pun dari dua belas bulan itu yang secara syar’i dinyatakan sebagai bulan celaka. Yang ada hanyalah bulan-bulan haram (bulan suci) yang dihormati, dan selebihnya diperlakukan sama secara hukum. Karena itu, menolak mitos bulan Safar bukan sekadar urusan logika, tetapi juga bagian dari tanggung jawab tauhid dan kebersihan iman.
Kesimpulannya, asal-usul kepercayaan bahwa bulan Safar adalah bulan sial berasal dari kebudayaan Arab jahiliyah yang penuh mitos dan simbol kekerasan. Islam telah membongkar mitos ini sejak masa Rasulullah dan menggantinya dengan paradigma iman kepada takdir.
Umat Islam semestinya meninggalkan warisan mitologis semacam ini dan membangun kehidupan spiritual yang berdasarkan pada wahyu, akal sehat, dan ketauhidan murni.
Mengembalikan makna Safar sebagai bulan biasa dalam Islam adalah bentuk pemurnian ajaran dan penguatan identitas tauhid di tengah masyarakat yang masih kerap terjebak pada warisan takhayul.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









