5 Hal Positif yang Patut Anda Coba di Bulan Safar

AKURAT.CO Bulan Safar selama ini dikenal sebagai bulan yang sering disalahpahami. Dalam tradisi sebagian masyarakat, bulan ini dianggap sebagai bulan sial, bulan yang tidak baik untuk menikah, bepergian, atau memulai usaha.
Namun, jika ditelusuri melalui kaca mata Islam yang murni, tidak ada satu pun dalil sahih yang menunjukkan bahwa bulan Safar memiliki muatan kesialan. Justru sebaliknya, bulan ini seperti bulan-bulan lainnya: punya potensi keberkahan jika digunakan dengan tepat.
Daripada tenggelam dalam mitos dan warisan keyakinan lama yang keliru, inilah lima hal positif dan produktif yang bisa Anda coba di bulan Safar. Alih-alih menghindari aktivitas, jadikan bulan ini sebagai waktu yang bernilai untuk meningkatkan kualitas hidup dan spiritualitas.
1. Menikah dan Memulai Komitmen Baru
Salah satu mitos yang paling kuat melekat pada bulan Safar adalah larangan menikah. Masyarakat tradisional percaya bahwa pernikahan di bulan ini akan membawa sial, rumah tangga tak harmonis, bahkan cepat bercerai. Ini jelas tidak berdasar.
Rasulullah SAW sendiri menikahkan beberapa sahabatnya di bulan-bulan biasa tanpa ada pengecualian untuk bulan Safar. Dalam Islam, tidak ada larangan menikah pada bulan apa pun, termasuk Safar. Menikah adalah ibadah yang sangat dianjurkan kapan pun waktunya memungkinkan.
Memilih menikah atau memulai hubungan halal di bulan Safar justru menjadi langkah berani untuk menepis mitos lama. Ini juga menjadi bentuk keyakinan bahwa semua waktu adalah milik Allah, dan tidak ada waktu yang buruk jika diniatkan untuk kebaikan.
Baca Juga: Keistimewaan Bulan Safar dalam Al-Qur'an dan Hadis
2. Menyusun Target Spiritual dan Ibadah Tambahan
Jika Muharram adalah momen refleksi awal tahun hijriyah, maka Safar bisa dijadikan kelanjutan dari niat-niat baik yang belum terealisasi. Safar cocok dijadikan waktu untuk mengevaluasi ibadah, memperkuat komitmen ruhani, serta menyusun target-target spiritual.
Beberapa amalan ringan yang bisa dimulai di bulan Safar:
-
Membiasakan puasa sunnah Senin-Kamis
-
Membaca Al-Qur’an satu juz per hari
-
Memperbanyak istighfar dan zikir pagi-sore
-
Menyisihkan sedekah harian walau hanya sedikit
Ibadah-ibadah ini bisa menjadi benteng untuk menangkal rasa takut akibat sugesti bulan Safar. Bukan karena bulan ini angker, tapi karena hati yang lapang lebih siap menghadapi ujian hidup kapan pun datangnya.
3. Edukasi dan Dakwah tentang Takhayul
Bulan Safar justru bisa dijadikan momen penting untuk menyebarkan edukasi keislaman. Sebagian orang mungkin masih terjebak dalam kepercayaan bahwa Safar adalah bulan penuh bala. Inilah waktu yang tepat untuk meluruskan keyakinan tersebut dengan cara santun dan bijak.
Anda bisa mengajak keluarga, tetangga, atau komunitas kecil untuk diskusi ringan tentang keutamaan waktu dalam Islam. Bisa lewat pengajian tematik, konten media sosial, atau bahkan obrolan warung kopi. Materi sederhana seperti hadis:
«لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ»
"Tidak ada penyakit menular dengan sendirinya, tidak ada kesialan karena burung, tidak ada keyakinan terhadap hantu, dan tidak ada kesialan bulan Safar." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sangat kuat untuk dijadikan pijakan dalam membongkar mitos. Semakin banyak orang tercerahkan, semakin kecil ruang bagi takhayul untuk bertahan hidup.
4. Mulai Proyek atau Usaha Baru
Banyak orang takut memulai usaha di bulan Safar karena dianggap tidak akan membawa keberuntungan. Ini jelas bertolak belakang dengan prinsip tawakal dalam Islam. Jika kita hanya berani bertindak saat waktu "dirasa aman", maka kita telah menjadikan waktu sebagai penentu nasib, bukan Allah.
Padahal, banyak contoh dalam sejarah Islam ketika para sahabat memulai ekspedisi, perdagangan, bahkan misi dakwah besar di bulan-bulan biasa tanpa mempermasalahkan nama bulannya.
Mulai usaha di bulan Safar justru bisa menjadi bentuk perlawanan terhadap mentalitas fatalistik. Kita tidak bisa berharap pada waktu, tapi bisa berharap pada kerja keras, perencanaan matang, dan doa yang sungguh-sungguh.
Baca Juga: 5 Mitos Seputar Bulan Safar, Nomor 3 Salah Kaprah!
5. Perbanyak Doa dan Rasa Syukur
Bulan Safar sering kali menjadi cermin ketakutan kolektif. Oleh karena itu, salah satu hal yang sangat patut dilakukan adalah memperbanyak doa dan syukur. Jika orang lain mengisi bulan ini dengan rasa takut, maka isi dengan harapan dan optimisme.
Beberapa doa yang bisa diamalkan:
-
Doa mohon perlindungan dari bala dan musibah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, lepra, dan penyakit-penyakit buruk lainnya." (HR. Abu Dawud) -
Doa memperkuat keyakinan pada takdir Allah:
رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا
"Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai nabi dan rasulku." (HR. Abu Dawud)
Rasa syukur pun perlu dilatih agar tidak kalah oleh rasa waswas. Menulis jurnal syukur atau menyebut 5 hal yang disyukuri setiap malam bisa menjadi cara sederhana untuk melatih mental positif di bulan ini.
Safar, Bulan untuk Bergerak Maju
Bulan Safar seharusnya tidak dilihat sebagai masa untuk menghindar, tapi waktu untuk bergerak maju. Islam tidak mewariskan ketakutan terhadap waktu. Justru, setiap waktu adalah peluang untuk menanam amal saleh, memperbaiki diri, dan meluruskan kesalahan pemahaman.
Maka, lima hal di atas bukan hanya sekadar aktivitas alternatif di bulan Safar. Itu adalah bentuk revolusi kecil melawan mitos besar. Dan jika cukup banyak orang yang melakukannya, maka perlahan tapi pasti, Safar tak lagi dilihat sebagai bulan sial, melainkan bulan biasa yang penuh potensi luar biasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









