5 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Orang Tua Agar Anak Mandiri dan Betah di Sekolah

AKURAT.CO Minggu pertama sekolah sering menjadi ujian kesabaran bagi para orang tua. Anak-anak bisa menangis, merengek ingin pulang, bahkan menolak masuk kelas.
Dalam situasi seperti ini, sebagian orang tua mungkin merasa kasihan, lalu tanpa sadar melakukan hal-hal yang justru menghambat tumbuhnya kemandirian anak.
Padahal, masa adaptasi sekolah adalah momen penting dalam proses pembentukan karakter. Sekolah bukan hanya tempat belajar membaca dan berhitung, tapi juga ruang sosial yang melatih anak berani, bertanggung jawab, dan mandiri.
Maka, selain mempersiapkan bekal fisik dan akademik, orang tua juga perlu menjaga sikap dan peran mereka agar anak tumbuh dengan rasa nyaman dan percaya diri di lingkungan sekolah.
Berikut ini lima hal yang sebaiknya tidak dilakukan oleh orang tua jika ingin anaknya mandiri dan betah di sekolah.
1. Terlalu Sering Mengantar Sampai ke Dalam Kelas
Mengantar anak ke depan gerbang atau sampai halaman sekolah adalah bentuk kasih sayang yang wajar. Namun, bila orang tua terlalu sering ikut masuk ke dalam kelas, apalagi duduk berlama-lama di samping anak, hal ini bisa membuat anak merasa ketergantungan.
Ia akan kesulitan lepas dari figur orang tuanya dan menganggap sekolah sebagai tempat yang "berbahaya" jika tanpa kehadiran ayah atau ibunya.
Berilah batasan yang sehat. Cukup antar sampai titik tertentu, beri pelukan, lalu biarkan anak melanjutkan langkahnya sendiri. Ini akan membentuk kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab dalam dirinya.
Baca Juga: Doa untuk Anak Sekolah di Minggu Pertama Masuk Sekolah, Agar Belajarnya Rajin
2. Menuruti Semua Keinginan Anak Setiap Hari
Saat anak mulai sekolah, mereka kadang mengajukan banyak permintaan: bekal yang harus sesuai keinginannya, harus dijemput cepat, harus duduk dengan teman tertentu. Jika semua dituruti tanpa seleksi, anak akan tumbuh dengan ekspektasi bahwa semua keinginannya harus dipenuhi. Ketika di sekolah tidak sesuai harapan, ia akan mudah kecewa dan mogok belajar.
Penting untuk mengajarkan bahwa tidak semua keinginan bisa dituruti. Latih anak mengelola harapan, belajar menyesuaikan diri, dan memberi ruang untuk kecewa—sebab semua itu bagian dari proses tumbuh dewasa.
3. Membuat Anak Takut dengan Cerita atau Ancaman
Beberapa orang tua masih sering menggunakan kalimat seperti, “Kalau nakal, nanti dimarahi Bu Guru,” atau “Awas, di sekolah banyak temannya galak.” Kalimat semacam ini memang tampak sederhana, tapi bisa menanamkan rasa takut dalam benak anak terhadap sekolah, guru, atau teman-temannya.
Sebaiknya, kenalkan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan dan aman. Ceritakan hal-hal positif tentang guru dan aktivitas belajar, sehingga anak merasa penasaran dan tertarik, bukan malah cemas dan ingin kabur.
4. Membandingkan Anak dengan Teman-Temannya
“Lihat tuh, temanmu berani, kamu kok cengeng sih?”
Kalimat seperti itu bisa sangat menyakitkan bagi anak. Dibanding-bandingkan bukan hanya membuatnya rendah diri, tapi juga memicu rasa iri dan menjauhi teman yang dijadikan perbandingan. Hal ini tentu akan berdampak buruk pada proses adaptasi sosial anak di sekolah.
Daripada membandingkan, lebih baik fokus pada perkembangan anak sendiri. Rayakan setiap kemajuan sekecil apa pun, dan bantu ia berkembang sesuai potensinya, bukan ambisi orang tua.
5. Menunjukkan Emosi Negatif di Depan Anak
Saat anak menolak sekolah atau menangis saat ditinggal, sebagian orang tua merasa marah, frustrasi, atau bahkan menangis balik. Sayangnya, sikap ini bisa membuat anak semakin bingung dan tidak nyaman. Ia akan merasa sekolah itu memang "menakutkan", karena bahkan orang tuanya sendiri terlihat tidak tenang.
Baca Juga: Tahun Ajaran Baru Dimulai, Ini Jadwal Masuk Sekolah 2025/2026 di Pulau Jawa
Orang tua perlu menjaga ekspresi dan emosi di hadapan anak. Tampilkan ketenangan, peluk anak dengan lembut, beri penguatan, dan katakan bahwa semua akan baik-baik saja. Ini membantu anak merasa lebih aman dan berani melangkah ke lingkungan barunya.
Kemandirian dan kenyamanan anak di sekolah tidak dibentuk dalam satu hari. Ini adalah proses panjang yang membutuhkan konsistensi, kesabaran, dan komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak. Dengan menghindari lima hal di atas, orang tua turut memberi ruang bagi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang kuat, berani, dan siap menghadapi dunia barunya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









