AKURAT.CO Akhir-akhir ini, media sosial dan berbagai platform berita sering kali dihebohkan dengan isu-isu terkait selebriti, termasuk berita simpang siur mengenai penyanyi Mahalini yang dituduh berselingkuh.
Berita-berita seperti ini, meskipun belum jelas kebenarannya, dapat menyebar dengan cepat dan mempengaruhi persepsi publik.
Sebagai seorang Muslim, bagaimana seharusnya kita bersikap ketika dihadapkan dengan berita yang belum terverifikasi?
1. Memastikan Kebenaran Berita (Tabayyun)
Islam mengajarkan umatnya untuk selalu memastikan kebenaran informasi yang diterima, terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan kehormatan seseorang. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6)
Baca Juga: Ramai Kabar Mahalini Selingkuh, Apa Hukum Selingkuh dalam Islam?
Ayat ini menekankan pentingnya sikap tabayyun atau memastikan kebenaran suatu berita sebelum kita mempercayainya atau menyebarkannya. Menyebarkan berita yang belum tentu benar dapat menyebabkan fitnah dan kerusakan, baik bagi individu maupun masyarakat.
2. Menjaga Lisan dan Tidak Bergunjing (Ghibah)
Selain tabayyun, umat Muslim juga diajarkan untuk menjaga lisan dan tidak membicarakan keburukan orang lain. Jika kita belum tahu dengan pasti kebenaran suatu berita, menggunjing atau menyebarkannya bisa jatuh dalam perbuatan ghibah, yaitu membicarakan orang lain di belakangnya dengan cara yang buruk. Allah SWT berfirman:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
"Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang."
(QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini menegaskan bahwa menggunjing sama dengan memakan bangkai saudaranya sendiri, yang jelas merupakan perbuatan yang sangat tercela.
3. Menghindari Fitnah
Fitnah adalah tuduhan tanpa bukti yang dapat merusak reputasi dan kehormatan seseorang. Dalam Islam, fitnah dianggap sebagai dosa besar. Rasulullah SAW bersabda:
الْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ
"Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Fitnah bisa merusak hubungan sosial, menghancurkan kehormatan, dan menyebabkan perpecahan dalam masyarakat. Oleh karena itu, seorang Muslim harus berhati-hati agar tidak terlibat dalam menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.
Baca Juga: Ramai Pembunuhan Gadis Penjual Gorengan, Apa Hukuman bagi Orang yang Membunuh dan Memperkosa dalam Islam?
4. Menghormati Kehormatan Orang Lain
Islam sangat menjunjung tinggi hak dan kehormatan individu. Rasulullah SAW bersabda dalam Khutbah Wada':
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا
"Sesungguhnya darahmu, hartamu, dan kehormatanmu adalah haram (untuk dilanggar), sebagaimana haramnya hari ini, di bulan ini, dan di negeri ini."
Dalam konteks ini, kehormatan seorang Muslim adalah sesuatu yang sangat dijaga, dan menyebarkan berita simpang siur dapat merusak kehormatan tersebut.
Sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi, terutama yang belum jelas kebenarannya.
Memastikan kebenaran (tabayyun), menghindari ghibah, menjauhi fitnah, serta menjaga kehormatan orang lain adalah prinsip-prinsip penting yang harus kita pegang.
Dengan demikian, kita tidak hanya melindungi diri sendiri dari dosa, tetapi juga menjaga ketertiban dan keharmonisan dalam masyarakat.
Wallahu a'lam bishawab.