Tekan Krisis Kesehatan Mental Anak, Kemenkes Luncurkan Buku Pertolongan Luka Psikologis

AKURAT.CO Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Indonesia’s First Aider on Psychological Wounds (IDWP) menerbitkan buku Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis sebagai upaya meningkatkan kesadaran sekaligus memperkuat penanganan masalah kesehatan mental pada anak dan remaja.
Pembina Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenkes, Ida Rachmawati Budi Gunadi Sadikin, mengatakan penerbitan buku tersebut merupakan langkah nyata untuk merespons meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental pada anak.
Menurut dia, program penerbitan buku dan kegiatan bedah buku menjadi salah satu bentuk komitmen Kemenkes bersama IDWP dalam menyikapi tren peningkatan masalah kesehatan mental pada anak dan remaja.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, satu dari tiga anak di Indonesia mengalami luka psikologis atau masalah kesehatan mental.
"Di Indonesia satu dari tiga anak mengalami luka psikologis atau masalah kesehatan mental. Ini langkah nyata kami untuk ikut memerangi masalah kesehatan mental. Jadi di Kemenkes bukan hanya kesehatan fisik yang ingin kami tangani, tetapi juga kesehatan mental agar angka penderitanya tidak terus meningkat," kata Ida di Kantor Kemenkes, Kamis (23/7/2026).
Ida menjelaskan, berdasarkan hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), penyakit yang paling banyak terdeteksi hingga kini masih didominasi gangguan kesehatan fisik.
"Sejauh yang saya tahu di CKG, yang paling banyak terdeteksi adalah sakit gigi, kemudian diabetes. Memang ada juga masalah kesehatan mental, tetapi secara statistik belum bisa diketahui apakah CKG sudah berdampak terhadap penurunannya karena program ini baru berjalan sekitar setahun," ujarnya.
Peran First Aider Dinilai Penting
Menurut Ida, keterlibatan remaja sebagai First Aider atau pemberi pertolongan pertama pada luka psikologis di lingkungan sekolah dan pergaulan dapat mempercepat penanganan masalah kesehatan mental.
"Saya melihat banyak anak yang memiliki keinginan membantu memperbaiki kesehatan mental dirinya maupun teman-temannya. Dengan adanya First Aider, masalah kesehatan mental di kalangan remaja bisa ditangani lebih cepat karena mereka lebih dekat dengan lingkungan pergaulannya. Pengalaman saya, anak kadang lebih nyaman bercerita kepada teman dibanding orang tuanya," katanya.
Ia berharap pendekatan tersebut dapat membantu remaja memperoleh dukungan lebih dini sehingga masalah kesehatan mental tidak berkembang menjadi lebih berat.
"Harapannya kesehatan mental mereka bisa lebih cepat diperbaiki sebelum menjadi lebih parah," ujarnya.
Baca Juga: Kemenhub Pacu Green Logistics Corridor, Siapkan Era Angkutan Barang Rendah Emisi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T










