Akurat

Peneliti Ungkap Junk Food dapat Tingkatkan Risiko Penyakit Kanker

Iwan Gunawan | 22 April 2024, 20:46 WIB
Peneliti Ungkap Junk Food dapat Tingkatkan Risiko Penyakit Kanker

AKURAT.CO Peneliti menemukan risiko penyakit kanker yang dikaitkan dengan junk food.

Dikarenakan makanan ini merupakan ultra-olahan yang berkaitan dengan risiko lebih besar terhadap penyakit kanker.

Junk food telah dikaitkan dengan kanker, melalui sebuah studi baru. Dikatakan bahwa makanan ultra-olahan dikaitkan dengan risiko lebih besar terkena penyakit kanker dan risiko kematian akibat kanker ovarium atau payudara lebih tinggi dibandingkan kanker lainnya.

Makanan junk food meliputi es krim, makanan siap saji, ham, keripik, roti produksi massal, kue, permen dan sereal sarapan.

Makanan tersebut umumnya mengandung bahan kimia, pewarna, pemanis dan pengawet untuk memperpanjang masa penyimpanan.

Baca Juga: Yuk Hidup Sehat, Ini Langkah Sederhana Berhenti Makan Junk Food

Dokter menyarankan untuk mengganti junk food dengan buah, sayuran segar, biji-bijian dan kacang-kacangan.

Dikutip dari Express, Senin (22/4/2024), para ahli yang didanai oleh Cancer Research UK dan World Cancer Research Fund melakukan pengamatan terhadap pola makan dan kesehatan 197.426 orang berusia 40 hingga 69 tahun selama satu dekade.

Para peneliti dari Tim Imperial College London mengatakan, penelitian di Inggris bukan merupakan bukti bahwa junk food menyebabkan kanker, namun menambah bukti yang berkembang dari penelitian sebelumnya.

Mereka juga menyerukan peringatan pada label makanan untuk membantu masyarakat memilih pilihan yang lebih sehat serta pajak untuk junk food.

Dr Kiara Chang mengatakan, rumah tangga berpenghasilan rendah sangat rentan terhadap makanan olahan yang murah dan tidak sehat.

"Rata-rata orang di Inggris mengonsumsi lebih dari setengah asupan energi harian mereka dari makanan ultra-olahan. Angka ini sangat tinggi dan memprihatinkan karena makanan ultra-olahan diproduksi dengan bahan-bahan yang berasal dari industri dan sering kali menggunakan bahan tambahan untuk menyesuaikan warna, rasa, konsistensi, tekstur atau memperpanjang umur simpan. Tubuh kita mungkin tidak bereaksi dengan cara yang sama terhadap bahan-bahan dan bahan tambahan yang diproses secara ultra ini seperti terhadap makanan segar dan bergizi yang diproses secara minimal," jelasnya.

Baca Juga: Obesitas Pada Anak Bukan Karena Makan Junk Food Terlalu Berlebihan

"Namun makanan ultra-olahan ada di mana-mana dan dipasarkan dengan harga murah dan kemasan yang menarik," tambah Dr Kiara Chang.

Dr Panagiota Mitrou, dari Dana Penelitian Kanker Dunia, mengatakan, temuan dari penelitian pertama di Inggris ini sangat penting karena ini adalah penilaian paling komprehensif terhadap makanan ultra-olahan dan risiko kanker.

"Hal ini menambah semakin banyak bukti yang menghubungkan makanan ini dengan kanker dan kondisi kesehatan lainnya," katanya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

I
Reporter
Iwan Gunawan
W
Editor
Wahyu SK