Studi: Lingkungan Tempat Anak Berada Dapat Pengaruhi Pola Makan dan Nutrisi

AKURAT.CO Penelitian yang melacak makanan di rumah 468 pasangan ibu-anak di Illinois, diterbitkan baru-baru ini di jurnal Public Health Nutrition.
Barton adalah asisten profesor riset di Pennsylvania State University, namun dia melakukan penelitian tersebut saat berada di Fakultas Pertanian, Konsumen, dan Ilmu Lingkungan Universitas Illinois, di Urbana.
Menurut Barton, “penting untuk memahami bagaimana lingkungan tempat anak-anak berada dapat memengaruhi pola makan dan nutrisi mereka.
Jenis makanan dan minuman apa saja yang tersedia di rumah, dan seberapa mudahnya barang-barang tersebut dapat diakses oleh anak kecil?”
Melacak ketersediaan berbagai makanan di rumah para peserta penelitian, kelompok Barton menggunakan daftar standar yang disebut Inventarisasi Makanan Rumah untuk melihat apa saja yang dapat diakses oleh anak-anak pada usia 2, 3, dan 4 tahun.
Baca Juga: Perhatian! Ini Penyebab Buruknya Gizi Anak
Semua peserta mengambil bagian dalam proyek penelitian UI yang menelusuri gizi anak-anak sejak bayi hingga usia 10 tahun. Mereka berfokus pada “skor obesitas” setiap makanan yang diterapkan pada anak-anak usia balita. Skor tersebut menilai seberapa besar makanan tertentu menambah peluang anak menjadi gemuk.
Mereka menemukan bahwa antara usia 2 dan 4 tahun, skor obesitas keseluruhan makanan di rumah rata-rata anak meningkat.
“Masuk akal bahwa seiring bertambahnya usia anak-anak, kehadiran makanan yang lebih padat energi dan tinggi lemak cenderung meningkat,” kata Barton dalam rilis berita universitas. “Anak-anak mungkin lebih sering meminta makanan ini, dan pengaruh dari luar, seperti pendapat rekan-rekan, mulai menjadi lebih jelas."
Semakin banyak kue, keripik, permen, daging olahan, makanan yang dimasak dengan microwave, dan makanan sejenis lainnya yang tersedia untuk anak-anak seiring berjalannya waktu.
“Saya ingin menunjukkan bahwa kami menemukan beberapa perubahan positif,” Barton menekankan. Misalnya, “sayuran juga menjadi lebih banyak tersedia di rumah pada usia 48 bulan,” katanya.
Ia mengatakan, orang tua tidak perlu menyalahkan diri sendiri jika ada sekotak kue atau hot dog di dapur.
“Intinya bukan untuk memberi label pada makanan tertentu sebagai makanan yang baik atau buruk,” katanya. “Kita semua mungkin memiliki makanan di rumah yang tidak 'direkomendasikan'. Ini benar-benar tentang mencoba memastikan bahwa kita mendapat cukup nutrisi, direkomendasikan makanan dan makan makanan yang tidak direkomendasikan dalam jumlah sedang.”
Barton juga percaya bahwa, dalam masyarakat saat ini, anak-anak dan orang tua sama-sama berada di bawah tekanan untuk mengonsumsi makanan yang kurang sehat.
“Ada faktor kompleks yang memengaruhi keputusan orang tua,” katanya. “Anak-anak mungkin meminta makanan tertentu, yang mungkin berasal dari pengaruh media dan iklan. Kita juga harus memertimbangkan siapa lagi yang tinggal di rumah seperti saudara kandung, dan orang tua mungkin mengalami tuntutan pekerjaan dan tekanan finansial yang dapat berdampak pada kehidupan keluarga mereka."
Selain itu, masyarakat di beberapa lingkungan mungkin merasa anggaran mereka terlalu terbatas untuk membeli berbagai macam makanan bergizi, atau mereka mungkin tinggal jauh dari toko makanan yang menjual makanan tersebut.
Baca Juga: Sepenting Apa Asupan Gizi Anak Saat Puasa Menurut Deswita Maharani?
Selama beberapa tahun pertama kehidupan seorang anak, makanan yang ada di sekitar mereka seperti yang ditemukan di lemari es dan lemari keluarga cenderung memiliki kandungan yang kurang sehat, demikian sebuah laporan hasil penelitian.
“Kami menemukan perubahan signifikan dalam beberapa kategori makanan dari waktu ke waktu,” kata penulis utama studi Jennifer Barton. “Makanan seperti biji-bijian non-utuh, daging olahan, camilan gurih, permen, dan makanan yang dapat dimasak instan dengan microwave atau dimasak dengan cepat tentu lebih banyak tersedia di pasaran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 10Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu







