Kenapa Kita Tak Bisa Mencium Bau Badan Sendiri? Ini Alasannya

AKURAT.CO Ketika kita mencium aroma dari tubuh orang lain yang berkeringat atau memiliki masalah bau mulut, kemampuan penciuman bisa mengidentifikasinya dengan efektif.
Namun, kejadian ini berbeda ketika kita mencoba mencium bau badan sendiri, meskipun secara fisik hidung kita berada dalam jarak yang lebih dekat dengan aroma tersebut, mengapa demikian?
Berdasarkan informasi dari Live Science, hidung manusia dilengkapi sekitar 400 jenis reseptor penciuman yang berbeda, mampu mengidentifikasi hingga 10 kategori bau serta lebih dari 1 triliun aroma berbeda. Inilah yang membuat penciuman menjadi salah satu indra pertama yang berkembang dalam proses evolusi manusia.
Baca Juga: 15 Cara Menghilangkan Bau Badan Secara Alami, Wajib Dicoba Sebelum Dijauhi Teman
Yang menarik, manusia memiliki kemampuan untuk mendeteksi senyawa aromatik dari tumbuhan dengan lebih baik daripada bahkan anjing. Ini dapat dijelaskan melalui sejarah evolusi kita sebagai pemburu-pengumpul.
Namun, penting untuk dicatat bahwa kita sebenarnya masih mampu mencium bau tubuh kita sendiri, dan ini dapat diuji dengan mencium aroma pada ketiak kita. Tetapi, seiring berjalannya waktu, kita menjadi kurang sensitif terhadap aroma tertentu.
Ahli neurobiologi molekuler di Duke University, Amerika Serikat, Hiroaki Matsunami, menjelaskan bahwa hal serupa juga terjadi dengan bau apa pun yang rutin kita hadapi, seperti parfum atau aroma dalam rumah kita. Hal ini disebabkan oleh apa yang disebut "kelelahan penciuman".
Baca Juga: Cuaca Lagi Terik! Begini Cara Mengatasi Bau Badan Akibat Keringat Berlebih
Meskipun penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami, diduga bahwa perubahan pada reseptor penciuman atau respons otak terhadap penciuman dapat berperan dalam fenomena ini.
Namun, yang menarik adalah efek kelelahan penciuman ini dapat diatasi dengan mencium bau dari area tubuh yang memiliki aroma berbeda, seperti siku atau lengan bawah.
Kaitan Bau Badan dan Kesehatan
Penelitian telah mengungkapkan adanya keterkaitan antara bau tubuh dan status kesehatan seseorang. Contohnya, bau napas yang tercium seperti aroma busuk dapat menjadi indikator adanya diabetes yang belum diobati. Di sisi lain, orang yang mengalami tifus mungkin memiliki keringat yang berbau seperti roti segar yang baru dipanggang.
Terdapat juga asumsi bahwa individu yang menderita penyakit Parkinson mungkin mengeluarkan aroma yang mirip dengan kayu atau aroma musky.
Selain berdampak pada kesehatan, aroma tubuh juga memiliki implikasi dalam konteks hubungan sosial. Dalam sebuah penelitian menarik, ilmuwan meminta wanita untuk mencium bau pada pakaian pria yang menghindari produk beraroma.
Hasilnya, setiap wanita memiliki preferensi yang kuat terhadap aroma tertentu dan peneliti berhasil menghubungkan preferensi ini dengan serangkaian gen yang dikenal sebagai kompleks histokompatibilitas utama (MHC).
Gen-gen ini mengodekan peptida yang digunakan oleh sistem kekebalan tubuh untuk mengenali penyerang asing. (Ridho Hatmanto)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









