Ranjau Meledak di Perbatasan Korea, Seoul Tuding Pyongyang Langgar Gencatan Senjata

AKURAT.CO Korea Selatan menuntut Korea Utara meminta maaf setelah ledakan ranjau darat di Zona Demiliterisasi (DMZ) pada 21 September 2026 melukai tiga personel militer Korea Selatan. Seoul menyatakan ranjau tersebut sangat mungkin dipasang oleh Korea Utara dan menilai insiden itu sebagai pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata Perang Korea 1953.
Militer Korea Selatan pada Rabu (30/9) mendesak Korea Utara segera meminta maaf dan menghentikan aktivitas penguatan perbatasan, termasuk pemasangan ranjau di kawasan DMZ. Seoul juga memperingatkan akan mengambil langkah yang dianggap perlu sebagai respons atas insiden tersebut.
Namun, Korea Utara membantah bertanggung jawab atas ledakan ranjau di DMZ. Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, menyebut tuduhan Seoul sebagai "farce" dan menuduh Korea Selatan sengaja membuat klaim tersebut untuk meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea.
Tiga Tentara Korea Selatan Terluka di DMZ
Ledakan terjadi pada 21 September ketika personel militer Korea Selatan melakukan operasi di bagian barat DMZ. Tiga tentara Korea Selatan terluka, dua di antaranya mengalami luka serius.
DMZ merupakan zona penyangga selebar sekitar 4 kilometer yang memisahkan Korea Selatan dan Korea Utara. Kawasan tersebut terbentuk setelah Perjanjian Gencatan Senjata 1953 menghentikan pertempuran aktif dalam Perang Korea.
Hasil pemeriksaan bersama militer Korea Selatan dan United Nations Command (UNC) kemudian menemukan sebuah ranjau antipersonel Korea Utara yang masih aktif di sisi selatan Garis Demarkasi Militer.
UNC menyatakan berdasarkan hasil penyelidikan, insiden tersebut merupakan pelanggaran terhadap Perjanjian Gencatan Senjata. Penanganan pelanggaran akan dilakukan melalui mekanisme yang telah ditetapkan dalam perjanjian tersebut.
Seoul Tuding Ranjau Dipasang untuk Perkuat Perbatasan
Menteri Pertahanan Korea Selatan Kang Shin-chul mengatakan ranjau yang diduga berasal dari Korea Utara kemungkinan dipasang sebagai bagian dari aktivitas penguatan perbatasan.
Korea Utara dalam beberapa tahun terakhir memang meningkatkan pembangunan infrastruktur pertahanan di sepanjang perbatasan. Aktivitas tersebut antara lain mencakup pemasangan ranjau, pembangunan penghalang antiranjau serta penguatan berbagai fasilitas di garis depan.
Seoul menilai aktivitas tersebut meningkatkan risiko terjadinya insiden di kawasan perbatasan yang sudah sangat sensitif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 4Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 5Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 6Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 7Prediksi Spanyol vs Kroasia di UEFA Nations League: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 8Ramalan Shio Minggu Ini 28 September–4 Oktober 2026: Ada yang Makin Sibuk, Ada yang Butuh Me Time
- 9Harmonisasi Pendidikan dan Industri, Cara Cermat TBIG Merawat Jaringan Telekomunikasi dan Asa Anak Bangsa
- 10KPK Geledah Kantor Bela Parahiyangan Investindo, Terkait Suap Kementerian ATR/BPN








