Tak Lagi Menyusuri Tebing, Anak-anak China Kini Naik Lift ke Sekolah

AKURAT.CO Anak-anak di Desa Nizhuhe, Provinsi Yunnan, China, kini tidak lagi harus menyusuri jalur tebing berbahaya untuk pergi ke sekolah. Anak-anak dapat menggunakan lift setinggi 288 meter yang dibangun di sisi tebing untuk mempersingkat perjalanan.
Sebelumnya, siswa harus menempuh perjalanan sekitar tiga jam dari desa menuju sekolah yang berada lebih dari 500 meter di atas permukiman. Jalur yang dilewati sempit dan curam, bahkan beberapa bagian hanya memiliki lebar sekitar setengah meter.
"Dulu, saya tidak khawatir anak saya akan kelelahan. Saya takut sesuatu akan terjadi padanya di perjalanan," ujar Zhao Suzhen selaku ibu salah satu siswa, dikutip dari Xinhua, Selasa (22/9/2026).
Fasilitas baru tersebut merupakan bagian dari pengembangan kawasan Nizhu River Grand Canyon. Sebelumnya, lift setinggi 268 meter dan kereta gantung telah beroperasi sejak 2022 untuk menghubungkan kawasan di bawah dan atas tebing.
Lift baru setinggi 288 meter mulai digunakan pada akhir Juli 2026 untuk meningkatkan kapasitas transportasi di kawasan tersebut. Lift itu dapat bergerak dengan kecepatan hingga 5 meter per detik sehingga perjalanan pada bagian tebing hanya membutuhkan waktu sekitar 57 detik.
Dengan fasilitas tersebut, perjalanan siswa dari desa menuju sekolah kini dapat ditempuh sekitar 30 menit. Siswa terlebih dahulu menggunakan bus menuju kaki tebing, kemudian naik lift dan melanjutkan perjalanan dengan kereta gantung.
Transportasi ini juga menyediakan jalur khusus bagi siswa dan warga setempat dapat menggunakannya secara gratis. Hingga akhir Agustus, fasilitas tersebut telah digunakan untuk hampir 1.000 perjalanan siswa dari desa menuju sekolah.
Akses transportasi serupa juga dikembangkan di wilayah China lainnya yang memiliki kondisi geografis berbeda. Di Desa Banda, Yunnan, misalnya, pemerintah menyediakan kapal khusus sebagai sarana siswa menyeberangi kawasan waduk menuju sekolah.
Sejak 2021, tujuh kapal telah melayani 12 titik penyeberangan untuk 329 siswa sekolah dasar, menengah dan anak prasekolah. Sistem tersebut dibangun setelah pemerintah bekerja sama dengan sekolah, orang tua, serta pihak transportasi untuk meningkatkan keamanan perjalanan siswa.
Di daerah pegunungan Chongqing, pemerintah juga menyediakan 33 rute bus sekolah melalui program bernama 'Hope Line'. Rute tersebut menggunakan jalur tetap dengan titik penjemputan yang fleksibel untuk menjangkau siswa di permukiman pedesaan yang tersebar.
Perubahan akses transportasi turut berdampak pada aktivitas siswa di sekolah. Kepala Guanzhai Primary School, Li Zhiguang, mengatakan siswa kini lebih percaya diri, aktif mengikuti kegiatan sekolah, serta memiliki lebih banyak waktu untuk membaca dan berolahraga.
Pembangunan akses menuju sekolah juga memberi dampak bagi masyarakat sekitar melalui perkembangan pariwisata. Warga mulai membuka penginapan, menjual produk lokal dan bekerja sebagai pemandu setelah kawasan Nizhu River Grand Canyon semakin banyak dikunjungi wisatawan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini







