Netanyahu Akui Likud Kehilangan 10 Kursi, Khawatir Kalah dalam Pemilu Israel

AKURAT.CO Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mengakui secara tertutup bahwa Partai Likud telah kehilangan sekitar 10 kursi dan berada dalam posisi sulit menjelang pemilihan umum Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.
Dalam pembicaraan tertutup dengan sejumlah pihak, Netanyahu disebut mengatakan bahwa Likud akan kalah dalam pemilu “kecuali ada sesuatu yang berubah.” Pernyataan tersebut dilaporkan pertama kali oleh lembaga penyiaran publik Israel, KAN, dan kemudian mendapat perhatian luas di tengah persaingan politik yang semakin ketat.
Menurut laporan tersebut, Netanyahu bahkan mengakui bahwa dirinya tidak mengetahui bagaimana cara mengembalikan dukungan yang telah hilang.
“Saya tidak tahu bagaimana mendapatkannya kembali,” ujar Netanyahu seperti dikutip dalam laporan KAN.
Pengakuan itu menunjukkan bahwa Netanyahu kemungkinan menilai kondisi politik Likud lebih buruk dibandingkan gambaran sejumlah jajak pendapat yang masih memberikan peluang cukup besar bagi partainya.
Likud Terus Tertekan
Sejumlah survei terbaru memang menunjukkan penurunan dukungan terhadap Likud. Dalam survei Channel 13 yang dirilis 26 Agustus, partai Gadi Eisenkot, Yashar, berada di posisi teratas dengan proyeksi 24 kursi, sedangkan Likud hanya memperoleh 19 kursi.
Angka tersebut menjadi penurunan tajam bagi Likud, yang dalam survei Channel 13 sebelumnya mendapatkan 23 kursi.
Jika hasil tersebut terealisasi dalam pemilu, blok partai oposisi Yahudi yang dipimpin Eisenkot diproyeksikan memperoleh 57 kursi. Sementara itu, blok koalisi Netanyahu hanya mendapatkan 48 kursi.
Sebanyak 15 kursi lainnya diperkirakan dikuasai partai-partai Arab.
Untuk membentuk pemerintahan, sebuah koalisi di Israel membutuhkan dukungan sedikitnya 61 dari 120 anggota Knesset. Dengan demikian, baik blok Netanyahu maupun oposisi belum memiliki mayoritas secara mandiri berdasarkan survei tersebut.
Eisenkot Unggul dari Netanyahu
Tekanan terhadap Netanyahu tidak hanya terlihat dari perolehan kursi partai.
Dalam survei Channel 13 yang sama, mantan kepala staf militer Israel Gadi Eisenkot unggul ketika responden ditanya siapa yang lebih layak menjadi perdana menteri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Prabowo Dukung Mesir Amankan Hak Air di Sungai Nil: Indonesia Prihatin Atas Upaya Pelanggaran Hukum Internasional
- 10Prabowo dan El-Sisi Tingkatkan Kerja Sama Pendidikan, Mesir Beri Tambahan Beasiswa untuk Mahasiswa Indonesia






