Donald Trump Diserang Partainya Sendiri soal Kesepakatan Iran, Republik Khawatir Teheran Makin Kuat

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi tekanan dari internal Partai Republik terkait rencana kesepakatan damai dengan Iran. Sejumlah senator senior memperingatkan bahwa perjanjian yang memberi ruang bagi Teheran mempertahankan pengaruh strategis atau kemampuan nuklir justru dapat melemahkan kepentingan Amerika Serikat di Timur Tengah.
Gelombang kritik itu muncul saat pemerintahan Trump tengah menjajaki kerangka kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir tiga bulan dengan Iran.
Beberapa politikus Partai Republik menilai proposal tersebut berisiko mengakui Iran sebagai kekuatan dominan kawasan, sementara Washington dinilai terlalu bergantung pada diplomasi terhadap pemerintahan yang dianggap tidak dapat dipercaya.
Trump langsung membalas kritik tersebut melalui platform Truth Social pada Minggu.
“Jika saya membuat kesepakatan dengan Iran, itu akan menjadi kesepakatan yang baik dan tepat, bukan seperti kesepakatan Obama yang memberi Iran uang tunai dalam jumlah besar dan jalan terbuka menuju senjata nuklir,” tulis Trump.
Ia juga menyebut para pengkritiknya sebagai “pecundang” yang menyerang sesuatu yang bahkan belum selesai dinegosiasikan.
Penolakan keras datang dari sejumlah senator Republik, termasuk Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat Roger Wicker, serta Thom Tillis, Lindsey Graham, dan Ted Cruz.
Mereka mempertanyakan apakah Iran benar-benar dapat dipercaya untuk mematuhi isi perjanjian.
Ted Cruz bahkan mengaku “sangat khawatir” terhadap arah negosiasi saat ini. Ia menilai kesepakatan yang membiarkan Iran tetap menguasai Strait of Hormuz dan terus memperkaya uranium akan menjadi kesalahan besar.
“Jika hasil akhirnya adalah rezim Iran tetap berkuasa, menerima miliaran dolar, mampu mengembangkan senjata nuklir, dan mengontrol Selat Hormuz, maka itu adalah bencana besar,” tulis Cruz di platform X.
Kritik serupa juga dilontarkan mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo yang menyebut kerangka kesepakatan baru itu mirip dengan perjanjian nuklir era Barack Obama.
Pompeo menuduh proposal tersebut berpotensi memberi Iran akses dana untuk memperkuat program senjata pemusnah massal dan mendukung kelompok militan di kawasan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 5Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan 100 Kampung Nelayan, Target Beroperasi Akhir Tahun
- 10Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara








