Akurat

AS Akan Tambah Sistem Rudal Canggih di Filipina, China Protes Keras

Fitra Iskandar | 17 Februari 2026, 21:14 WIB
AS Akan Tambah Sistem Rudal Canggih di Filipina, China Protes Keras

AKURAT.CO Amerika Serikat berencana menambah penempatan sistem rudal berteknologi tinggi di Filipina guna memperkuat daya tangkal terhadap potensi agresi di Laut China Selatan. Dalam pernyataan bersama yang dirilis Selasa, kedua negara sekutu itu mengecam apa yang mereka sebut sebagai aktivitas China yang “ilegal, koersif, agresif, dan menipu” di kawasan sengketa tersebut.

Beijing sebelumnya telah berulang kali menyuarakan kekhawatiran atas pemasangan sistem rudal jarak menengah milik AS, Typhon, di wilayah utara Filipina pada 2024, serta peluncur rudal anti-kapal yang ditempatkan tahun lalu. Pemerintah China menilai kehadiran persenjataan tersebut bertujuan membendung kebangkitan China dan berpotensi mengganggu stabilitas kawasan.

China juga mendesak Filipina untuk menarik peluncur rudal tersebut dari wilayahnya. Namun, pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos Jr. menolak permintaan tersebut.

Bahas Perluasan Kerja Sama Keamanan

Pejabat tinggi AS dan Filipina menggelar pertemuan tahunan di Manila pada Senin untuk membahas perluasan kerja sama di bidang keamanan, politik, dan ekonomi, termasuk penguatan kolaborasi dengan sekutu keamanan regional.

Dalam pernyataan bersama yang dirilis Selasa, kedua negara merinci rencana pertahanan tahun ini, termasuk latihan militer gabungan, dukungan Washington dalam modernisasi militer Filipina, serta upaya meningkatkan penempatan sistem rudal dan sistem nirawak canggih AS di Filipina.

Kedua negara juga menegaskan komitmen menjaga kebebasan navigasi dan penerbangan, kelancaran perdagangan yang sah, serta penggunaan laut secara damai bagi semua negara.

“Mereka mengutuk aktivitas ilegal, koersif, agresif, dan menipu China di Laut China Selatan yang berdampak buruk terhadap perdamaian dan stabilitas kawasan serta perekonomian Indo-Pasifik dan global,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Ketegangan Meningkat di Laut China Selatan

Dalam beberapa tahun terakhir, konfrontasi antara penjaga pantai China dan Filipina meningkat di wilayah sengketa tersebut. Selain kedua negara, Vietnam, Malaysia, Brunei, dan Taiwan juga terlibat dalam klaim tumpang tindih di Laut China Selatan.

Meski tidak merinci detail penempatan rudal terbaru, Duta Besar Filipina untuk Washington, Jose Manuel Romualdez, menyebut pejabat pertahanan kedua negara membahas kemungkinan penempatan peluncur rudal AS versi “peningkatan” tahun ini. Sistem tersebut berpotensi dibeli Filipina di masa depan.

“Ini sistem yang sangat canggih dan akan ditempatkan di sini dengan harapan suatu saat nanti kami bisa memiliki sendiri,” ujar Romualdez.

Ia menegaskan bahwa penempatan rudal AS tidak dimaksudkan untuk memprovokasi negara mana pun. “Ini murni untuk daya tangkal. Setiap kali China menunjukkan agresi, hal itu justru memperkuat tekad kami untuk memiliki sistem seperti ini,” katanya.

Jangkauan Rudal dan Lokasi Strategis

Sistem Typhon yang ditempatkan Angkatan Darat AS di Pulau Luzon pada April 2024 merupakan sistem berbasis darat yang dapat meluncurkan rudal Standard Missile-6 dan Tomahawk Land Attack Missile. Rudal Tomahawk memiliki jangkauan lebih dari 1.600 kilometer, yang berarti sebagian wilayah China berada dalam jangkauan dari Luzon.

Selain itu, Korps Marinir AS tahun lalu menempatkan sistem rudal anti-kapal Navy Marine Expeditionary Ship Interdiction System (NMESIS) di Pulau Batan, Provinsi Batanes, wilayah paling utara Filipina yang menghadap Selat Bashi di selatan Taiwan.

Selat tersebut merupakan jalur perdagangan dan militer yang strategis. Baik militer AS maupun China berupaya memperkuat pengaruhnya di kawasan itu, seiring meningkatnya persaingan geopolitik di Indo-Pasifik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.