Dengan Pengejaran Panjang, Amerika Serikat Sita Tanker Rusia di Atlantik Utara

AKURAT.CO Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanannya terhadap Rusia dan sekutunya. Pada Rabu waktu setempat, AS sita tanker Rusia berbendera Moskow di Samudra Atlantik Utara setelah melakukan pengejaran panjang sejak lepas pantai Venezuela. Operasi ini dipastikan akan memperkeruh hubungan Washington dan Moskow.
Pejabat Amerika Serikat menyebut kapal tersebut bagian dari apa yang mereka sebut sebagai “shadow fleet”, jaringan kapal tanker yang digunakan untuk mengangkut minyak bagi negara-negara seperti Rusia, Venezuela, dan Iran dengan cara menghindari sanksi ekonomi AS.
Kapal tanker itu sebelumnya sempat menggagalkan upaya pemeriksaan oleh AS pada bulan lalu di perairan dekat Venezuela. Insiden tersebut terjadi tidak lama sebelum operasi militer Amerika Serikat yang menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari kekuasaan.
“Kapal tersebut disita di Samudra Atlantik Utara berdasarkan surat perintah dari pengadilan federal Amerika Serikat,” demikian pernyataan Komando Eropa AS (EUCOM) yang mengawasi operasi militer Amerika di kawasan tersebut, dikutip dari unggahan di platform X.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa penyitaan ini menandai berlakunya penuh blokade minyak Venezuela. Ia menyebut pembatasan tersebut berlaku “di mana pun di dunia”.
Tak lama setelah mengonfirmasi keberhasilan operasi di Atlantik Utara, militer AS mengumumkan penyitaan kapal tanker kedua yang masuk daftar sanksi di wilayah Laut Karibia.
Kapal Dikawal Kapal Selam Rusia
Operasi AS sita tanker Rusia ini tetap dilakukan meski Rusia mengerahkan kapal selam untuk mengawal tanker tersebut. Moskow menegaskan kapal itu berlayar di bawah bendera Rusia dan berada jauh dari wilayah perairan Amerika Serikat.
“Untuk alasan yang tidak jelas bagi kami, kapal Rusia ini mendapat perhatian berlebihan dari militer AS dan NATO—perhatian yang jelas tidak sebanding dengan statusnya yang damai,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia sebelum penyitaan dilakukan.
Terkait Minyak Venezuela
Kapal tanker yang sebelumnya bernama Bella-1 diketahui telah mengganti registrasi ke Rusia dan berganti nama menjadi Marinera. Awak kapal bahkan dilaporkan mengecat bendera Rusia di badan kapal untuk mempertegas statusnya.
Meski sedang menuju Amerika Selatan, tanker tersebut tidak membawa muatan minyak saat berhasil menghindari blokade AS. Kapal ini telah masuk daftar sanksi Amerika Serikat sejak 2024 karena diduga memiliki keterkaitan dengan Iran dan kelompok Hezbollah.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan Venezuela akan menyerahkan puluhan juta barel minyak kepada Amerika Serikat setelah Maduro ditangkap. Trump menyebut sekitar 30 hingga 50 juta barel minyak mentah Venezuela akan dikirim ke pelabuhan-pelabuhan AS.
Trump bahkan mengklaim pendapatan dari minyak tersebut—yang diperkirakan bernilai lebih dari US$2 miliar dengan harga pasar saat ini—akan berada di bawah kendali pribadinya.
Namun, hingga kini belum jelas apakah penguasa baru Venezuela, Presiden sementara Delcy Rodriguez, menyetujui skema tersebut, termasuk dasar hukum dan mekanisme penyerahannya.
Rodriguez, yang merupakan orang dekat Maduro dan pernah menjabat wakil presiden serta menteri energi, menyatakan siap bekerja sama dengan Amerika Serikat di tengah kekhawatiran bahwa Washington dapat mendorong perubahan rezim yang lebih luas.
Trump sendiri menegaskan Amerika Serikat kini “mengendalikan” Venezuela dan menyampaikan doktrin baru dominasi AS di kawasan belahan bumi barat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









