Menteri Israel Serukan Hapus Bulan Ramadan demi Kelancaran Perang, Langsung Tuai Kecaman

AKURAT.CO Menteri Warisan Budaya Israel, Amichai Eliyahu, menyuarakan untuk menghapus bulan suci Ramadan.
Tentu saja, seruan tersebut menimbulkan kehebohan di kalangan umat muslim di seluruh dunia.
Penghapusan bulan Ramadan sendiri bertujuan untuk meredakan ketegangan dan konflik yang berlangsung di Tepi Barat dan Yerusalem Timur selama bulan suci tersebut. Ia juga mengatakan bahwa ketakutan pada bulan Ramadan juga harus dihapuskan.
Baca Juga: PBB: Pemerkosaan Individu dan Berkelompok Kemungkinan Terjadi Selama Serangan Hamas ke Israel
"Apa yang disebut sebagai bulan Ramadhan harus dihilangkan, dan ketakutan kita terhadap bulan ini juga harus dihilangkan," ujar Eliyahu mengatakan kepada Radio Angkatan Darat, dikutip Anadolu Agency, Selasa (5/3/2024).
Pernyataan tersebut segera mendapat kritik yang tajam dari publik dan berbagai pihak, baik di dalam maupun luar Israel.
Diketahui, Eliyahu adalah menteri dari Partai Otzma Yehudit yang dipimpin oleh Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben Gvir.
Pernyataan kontroversial ini bukanlah kali pertama disampaikan Eliyahu.
Sebelumnya, menteri tersebut pernah menyatakan keinginan untuk menggunakan bom nuklir di Jalur Gaza sebagai salah satu opsi selama situasi tegang di wilayah tersebut.
Akibat pernyataan yang disampaikan dalam wawancara bersama Radio Kol Berama, Eliyahu dihentikan sementara dari posisinya sebagai Menteri Warisan Budaya Israel.
Dia juga tidak diizinkan untuk menghadiri pertemuan kabinet yang diselenggarakan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
"Kata-kata Amichai Eliyahu tidak sesuai dengan kenyataan," tulis Netanyahu dalam sebuah postingan di media sosial X saat itu.
Akhir-akhir ini Israel mulai merasa cemas mengenai potensi konflik di Tepi Barat dan Yerusalem sebagai dampak agresi di Jalur Gaza yang telah menyebabkan lebih dari 30.400 kematian.
Israel khawatir ada kemungkinan terjadinya bentrokan, terutama selama bulan Ramadan.
Kekhawatiran ini muncul karena penerapan kebijakan pembatasan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang mencakup pembatasan kunjungan umat muslim ke Masjid Al Aqsa dengan alasan keamanan.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat memberikan tekanan kepada Tel Aviv untuk mencapai kesepakatan dengan Hamas terkait pertukaran sandera dan gencatan senjata di Gaza sebelum bulan Ramadan.
Dalam pembicaraan mengenai perjanjian pembebasan sandera yang terus berlanjut dengan bantuan mediasi dari AS, Qatar dan Mesir, Presiden AS, Joe Biden, menyatakan pada Senin (4/3/2024) bahwa Israel akan menghentikan konfliknya melawan Gaza jika kesepakatan tersebut tercapai.
Baca Juga: Israel Ambil Alih 650 Hektare Tanah di Tepi Barat yang Berbatasan dengan Permukiman Yahudi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 6Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 7Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








