Rumah Sakit Nasser di Gaza Lumpuh Total Akibat Serangan Israel

AKURAT.CO Serangan darat dan udara dilakukan pasukan Israel hingga menyebabkan rumah sakit terbesar kedua di Gaza itu tidak dapat beroperasi. Kementerian Kesehatan di kawasan tersebut terkepung dan World Health Organization (WHO) pada hari Minggu (18/2/2024) mengatakan, rumah sakit Nasser di Khan Younis, Gaza selatan, tidak lagi berfungsi akibat pengepungan selama berminggu-minggu yang semakin intensif serta serangan mematikan pada minggu ini.
“Hanya ada empat staf medis yang saat ini merawat pasien,” di dalam rumah sakit, Juru Bicara Kementerian Ashraf al-Qudra mengatakan kepada kantor berita Reuters pada hari Minggu (18/2/2023).
Baca Juga: Blinken Kunjungi Gaza, Warga Palestina: Kami Berharap Gencatan Senjata Dapat Terwujud
Melalui postingan di X, Ketua WHO Tedros Adhanom Ghebreysus mengatakan, tim organisasi tersebut belum diizinkan oleh militer Israel untuk memasuki rumah sakit sejak Jumat (16/2/2024), untuk menilai kondisi pasien kritis dan kebutuhan medis. Meskipun mereka tiba di rumah sakit tersebut bersama dengan pasukannya untuk melakukan pemeriksaan dan mengantarkan bahan bakar.
“Masih ada sekitar 200 pasien di rumah sakit. Setidaknya 20 orang harus segera dirujuk ke rumah sakit lain untuk menerima layanan kesehatan; rujukan medis adalah hak setiap pasien,” katanya, seraya menambahkan bahwa “biaya keterlambatan akan ditanggung oleh nyawa pasien."
Dalam beberapa hari terakhir, tentara Israel menyerang rumah sakit hingga tempat pengungsi Palestina untuk berlindung. Kementerian Kesehatan pada hari Sabtu mengatakan, pasukan Israel menangkap sejumlah besar direktur dan staf rumah sakit ketika mereka merawat korban luka.
Pada hari Jumat, kementerian mengatakan rombongan bantuan yang dipimpin oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ditahan selama tujuh jam dan dicegah mencapai rumah sakit. Sementara itu, Rumah Sakit al-Amal, satu-satunya fasilitas medis besar yang masih beroperasi di Khan Younis, terus menjadi sasaran serangan Israel. Masyarakat Palestine Red Crescent Society (PRCS) pada hari Minggu mengatakan pasukan Israel menargetkan lantai tiga rumah sakit dengan tembakan artileri.
Militer Israel telah memerluas pengepungannya terhadap Khan Younis dan fasilitas medisnya, mereka bergerak jauh ke selatan menuju Rafah perbatasan dengan Mesir.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap bersikeras mengenai serangan darat yang akan segera terjadi di Rafah. Diketahui lokasi tersebut terdapat lebih dari 1,4 juta pengungsi Palestina berlindung.
“Dalam serangan (udara) semalam di Rafah, kita telah melihat kengerian warga Palestina yang mengungsi, yang berusaha mencari perlindungan di kota tersebut, di mana mereka diperintahkan untuk mengungsi dan diberitahu bahwa itu akan menjadi 'zona aman' namun ternyata mereka menjadi sasaran dan dibunuh. di dalam rumah mereka,” Hani Mahmoud dari Al Jazeera, melaporkan dari Rafah, mengatakan pada hari Minggu.
“Selain itu, kurangnya staf medis dan pasokan medis, menyebabkan orang-orang terbaring di lantai rumah sakit selama berjam-jam menunggu bantuan. Israel telah membatasi pengiriman bantuan sehingga memerburuk kekurangan tersebut.”
Baca Juga: Perubahan Iklim Jadi Ancaman Mendesak Bagi Perempuan Hamil Dan Anak-Anak, PBB Serukan Campaign Call for Action
PBB bersama dengan Amerika Serikat dan sekutu Israel lainnya, mengatakan, mereka tidak akan menerima invasi ke Rafah. Namun belum membahas apa yang akan mereka lakukan jika Israel melanjutkan pendekatan untuk mencapai kemenangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









